PASKAH DAN KONSOLIDASI

Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?

(Lukas 24:32)

Kegaduhan masih mendominasi situasi politik kita pasca pemilu 2024. Walau sudah berminggu-minggu berlalu, saling olok di antara para pendukungcapres masih terjadi hingga hari ini. Polah para politisi pun kian mengeruhkan suasana. Belum rampung sidang sengketa hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK), awak media ramai memberitakan para pemilik partai sibuk rebutan jatah menteri. Saling hujat di akar rumput dan saling sikut di tataran elite menunjukkan betapa buruk dinamika berpolitik kita.

Lantas, bagaimana kita merenungkan pesan Paskah di tengah suasana kegilaan politik ini?

Kristus di Emaus karya Rembrandt, 1648, Louvre.
Kristus di Emaus karya Rembrandt, 1648, Louvre.

Pengkhianatan Demokrasi: Luka dan Kekecewaannya

Dugaan kecurangan dan pelanggaran hukum menjadi isu utama selama penyelenggaraan pemilu 2024. Penyalahgunaan berbagai fasilitas negara, seperti, dana bansos, kepala desa, dan aparatur negara lainnya untuk memenangkan salah satu paslon menjadi persoalan pokok. Para pemohon dalam sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di MK tanpa rasa segan menyebut nama Presiden RI, Jokowi, sebagai biang kerok keributan pesta demokrasi. Paslon 03, Ganjar-Mahfud, bahkan lugas menuding Jokowi melakukan abuse of power (Kompas, 28/3/2024) untuk memenangkan putra sulungnya. Walau masih berupa dugaan, cawe-cawe Presiden Jokowi pada penyelenggaraan pemilu silam sudah menorehkan catatan merah dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Dugaan penyalahgunaan kekuasaan jabatan presiden oleh Jokowi membidani lahirnya sikap pesimis terhadap masa depan demokrasi kita. Pesimis muncul karena mencurangi hasil pemilu berpotensi untuk menjadi preseden di kemudian hari. Para penguasa akan menggunakan wewenangnya untuk memanipulasi hasil pemilu demi kepentingannya atau keluarganya. Akhirnya, demokrasi bukan lagi sarana untuk mengekspresikan kedaulatan rakyat.

Dampak paling serius dari hasil “pura-pura demokrasi” ini adalah hilangnya kepercayaan publik pada pemerintahan terpilih. Jika kekuasaan didapat karena kecurangan, apakah mungkin pemerintahan dijalankan dengan prinsip keadilan? Kita sudah melihat tanda-tandanya. Pemenang pemilu mulai “merangkul” kompetitornya pada pemilu lalu dengan menawarkan jatah menteri (Majalah TEMPO, 24/3/2024). Narasinya adalah untuk persatuan Indonesia dan stabilitas politik. Padahal, maksud tersembunyi di balik “rangkulan” ini ialah pemerintah ingin menghindari, bahkan mengeliminasi oposisi. Dengan meminggirkan oposisi, resistansi penolakan untuk setiap kebijakan akan berkurang. Ujungnya, rezim bebas melakukan apa saja tanpa kontrol berarti.

Kecurangan pemilu dan pengkhianatan nilai-nilai demokrasi telah melukai kita sebagai bangsa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas masyarakat menganggap politik sebagai segumpal omong kosong belaka. Sikap cuek pada politik merupakan ungkapan frustrasi terhadap perilaku politik para elite, yakni rakyat tidak pernah menjadi prioritas. Luka akhirnya menyebabkan kecewa, kemarahan, kesedihan, dan menyeret kita pada sikap apatis terhadap politik.

Paskah sebagai Momen Konsolidasi

Konsolidasi berasal dari kata Inggris kuno pada abad ke-14, yakni consolidacioun. Ketika itu, kata konsolidasi berarti proses menyembuhkan luka, khususnya patah tulang. Konsolidasi memadatkan kembali tulang yang patah agar kembali utuh seperti sedia kala sehingga mampu berfungsi kembali bersama anggota tubuh lainnya. Oleh karena itulah, dalam consolidationem (kata Latin dari konsolidasi), terdapat kata solidare yang artinya saling bergantung, lengkap, dan utuh. Pendeknya, konsolidasi adalah proses menyembuhkan luka untuk menumbuhkan solidaritas.

Upaya konsolidasi menjadi tugas penting kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Para murid terluka, bahkan terguncang imannya ketika menghadapi kenyataan Yesus disalibkan (Mat. 26:31). Gejalanya sudah terlihat di awal ketika para tentara menangkap Yesus di taman Getsemani: semua murid meninggalkan Dia dan melarikan diri (Mrk. 14:50). Petrus, murid yang terkenal paling berani dan radikal, bahkan menyangkali Yesus sebanyak tiga kali selama proses persidangan-Nya (Mat. 26:69–75). Penyaliban Yesus pun mencerai-beraikan para murid (Yoh. 16:32). Mereka terserak dengan memendam luka, marah, dan sedih.

Kesedihan terlihat jelas dalam tuturan kisah dua orang Emaus ketika bertemu dengan Yesus. Tanpa mereka sadari, mereka telah bertemu dengan Yesus yang telah bangkit dari kematian pada suatu perjalanan. Mereka mempercakapkan bahwa kematian Yesus memupuskan harapan mereka. Tadinya, mereka berharap Yesus akan membebaskan bangsa Israel (Luk. 24:21). Namun, kenyataan berbicara lain. Yesus mati tersalib, bahkan mayatnya hilang dari kubur (ayat 22–23). Selama mempercakapkan peristiwa ini, Alkitab mencatat wajah orang Emaus terlihat murung (ayat 17, σκυθρωποί – skuthropoi, tanpa harapan).

Yesus kemudian merespons keresahan dan kesedihan mereka (ayat 25–27). Yesus menjelaskan tentang karya Mesias dari seluruh Kitab Suci. Tanpa mereka sadari, hati dua orang Emaus berkobar-kobar selama mendengar penjelasan Yesus (ayat 32). Berkobar-kobar (καιομένη, kaiomene) bukan sekadar lawan kata dari murung, yakni gembira, melainkan munculnya antusiasme, semangat, dan pemahaman baru. Perjumpaan dengan tubuh Yesus yang dibangkitkan mengobati luka mereka sehingga memunculkan harapan baru.

Selama empat puluh hari, tubuh Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepada para murid (Kis. 1:3). Paulus mencatat Yesus menunjukkan tubuh kebangkitan-Nya kepada lebih dari lima ratus orang  (1Kor. 15:6). Selama empat puluh hari, Yesus menunjukkan bukti dan mengajarkan kembali tentang Kerajaan Allah. Yesus memulihkan harapan mereka. Para murid yang telah terserak kemudian kembali solid dengan satu visi, yaitu memberitakan Injil ke seluruh dunia (Kis. 1:8).

Kebangkitan Yesus menyembuhkan luka, menyatukan, membangkitkan harapan, dan memfokuskan kembali visi para murid. Kebangkitan Yesus mengonsolidasikan kembali gerakan lewat ajaran dan tindakan-Nya.

Konsolidasi sebagai Kekuatan untuk Penggenapan Visi

Politik memang kerap kali melukai hati rakyat. Para elite selalu menganggap kita sebagai komoditas berharga hanya lima tahun sekali. Pada akhirnya, setelah “gegap gempita” pesta demokrasi usai, para pemilik partai kembali sibuk dengan urusan mereka sendiri, yakni transaksi kekuasaan. Ketika para penguasa sibuk berkongkalikong, rakyat kembali berkubang di samudera lumpur kemiskinan.

Di kubangan lumpur kemiskinan itu, rakyat berserak. Kita sibuk mengais rupiah hanya demi satu tujuan: bertahan hidup. Akibatnya, kita lupa memaknai hidup. Tanpa disadari, ketika makna menghilang dari radar kehidupan, kita sedang mengidentifikasi diri sebagai benda—mungkin binatang. Politik tidak pernah peduli dengan kita, walaupun, sekali lima tahun, kita mati-matian membelanya. Politik kerap membiarkan kita hidup tanpa makna dan harapan.

Namun, apatis terhadap politik adalah pilihan terburuk. Harga beras, bensin, minyak goreng, biaya pendidikan, dan ongkos rumah sakit ditentukan oleh politik. Jika kita membiarkannya bekerja seenaknya, politik justru akan balik memangsa kita. Politik tanpa pengawasan akan membuat kita bodoh dan mati kelaparan. Oleh karena itulah, para diktator justru senang pada sikap pasif rakyat, apalagi jika rakyat tercerai-berai.

Ketika hampir semua partai terlibat dalam transaksi kekuasaan, harapan terhadap munculnya oposisi di parlemen kian menipis. Ketiadaan oposisi, seperti yang dipraktikkan Jokowi sepuluh tahun terakhir, akan membuat posisi presiden satu milimeter lebih rendah di bawah Tuhan. Dengan terpaksa, untuk mencegah terulangnya pengultusan pada petugas pemerintahan, kekuatan rakyat harus kembali digalakkan.

Pesan Paskah mengingatkan kita betapa pentingnya upaya konsolidasi. Kebangkitan Yesus bertujuan untuk merapatkan kembali barisan para murid yang telah kehilangan harapan. Dia bangkit bukan sekadar untuk menunjukkan atribut keilahian karena sukses melawan kematian. Dia bangkit untuk memastikan para murid bergerak serempak untuk mewujudkan visi Injil ke seluruh dunia. Visi Injil itu adalah memberitakan kabar baik kepada orang miskin dan memberitakan pembebasan kepada para tawanan (Luk. 4:18).

Seruan PARKINDO

Berdasarkan pengamatan atas realitas politik dan refleksi Kitab Suci mengenai kebangkitan Yesus, Partisipasi Kristen Indonesia (PARKINDO) menyerukan beberapa hal sebagai respons kristiani:

  1. PARKINDO menyerukan pada seluruh gereja dan organisasi Kristen untuk mengonsolidasikan rakyat sebagai kekuatan gerakan sipil untuk memastikan visi Injil, yakni keberpihakan kepada orang miskin, terejawantah dalam politik.
  2. Karena konsolidasi bertujuan untuk menyembuhkan luka dan menumbuhkan harapan, PARKINDO menyerukan pada seluruh gereja dan organisasi Kristen agar menjalankan fungsi edukasi politik yang sehat kepada rakyat. Berkaca kepada Yesus yang telah bangkit, menampakkan diri, dan mengajarkan kembali Kerajaan Allah berdasarkan Kitab Suci, tugas edukasi (bukan agitasi) menjadi pilar pertama konsolidasi.
  3. PARKINDO menyerukan pada seluruh gereja dan organisasi Kristen agar senantiasa menyemai benih harapan walaupun politik kita menunjukkan gelagat sedang berjalan menuju kegelapan. Sebab, tanpa pembaharuan harapan, konsolidasi akan kehilangan orientasi. 

Partisipasi Kristen Indonesia mengucapkan, “Selamat Paskah bagi kita semua.”

Scroll to top