Machiavelli di antara Penguasa dan Hasrat Kekuasaan

Bagaimanakah seorang raja merebut dan/atau mempertahankan kekuasaannya? Apakah sang raja maju dengan berbaju zirah nilai-nilai moral? Atau, dia mempertahankan kekuasaannya dengan tangan besi serta tipu muslihat? Inilah pertanyaan inti dari buku “Sang Penguasa” karya Niccolo Machiavelli. Bukunya memang tipis, tetapi tebal pengaruhnya bagi perkembangan sejarah pemikiran politik. Ditulis dengan lugas, sederhana, bahkan praktis, Machiavelli menawarkan tip dan trik kepada penguasa untuk mengurusi kekuasaannya. Jadi, bisa dikatakan, buku ini adalah manual book bagi para pemuja kekuasaan.

Machiavelli di antara Penguasa dan Hasrat Kekuasaan
Judul: Sang Penguasa – Surat Negarawan kepada Pemimpin Republik
Pengarang: Niccolo Machiavelli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan, Tahun Terbit: Ketiga, September 1991

Buku “Sang Penguasa” adalah hadiah Machiavelli kepada Lorenzo De’ Medici sebagai penguasa setempat. Pemberian hadiah bertujuan untuk menandakan kesetiaan dan hormat kepada rezim serta harapan agar si Paduka mencapai puncak kemuliaan (h. 46–47). Mengapa Machiavelli perlu menunjukkan tanda kesetiaannya? Machiavelli mulai menulis buku ini pada 1512–1519. Pada mulanya, Machiavelli adalah seorang politisi tersohor. Namun, dinamika politik dan pergantian kekuasaan menjerembapkannya menjadi manusia biasa pada 1512. Rezim mengurungnya ke penjara atas tuduhan terlibat dalam melawan penguasa sah, yaitu keluarga Medici, pada 1513 (h. 27). Jadi, hadiah ini, bisa jadi, adalah bukti “pertobatan” Machiavelli dari usaha perlawanannya pada penguasa.

Sumber utama pemikiran Machiavelli adalah sejarah dan peristiwa kontemporer di zamannya. Dia memperoleh pengetahuan dari “mempelajari masalah-masalah zaman sekarang dan juga dunia masa silam,” (h. 46). Isi dari setiap halaman bukunya adalah refleksi atas peristiwa-peristiwa politik itu. Dia akan menuturkan cerita dan sejurus kemudian menarik pesan moral berkenaan dengan cara-cara seorang penguasa mengurusi kekuasaan.

Untuk memahami pemikiran Machiavelli tentang politik, kita harus mengkhususkan perhatian pada asumsi antropologi dan sosiologinya. Kesan pertama, Machiavelli memandang manusia sebagai makhluk pragmatis. Dia mengatakan, “Keinginan untuk memperoleh lebih banyak memang merupakan sesuatu yang wajar dan umum,” (h. 58). Selain pragmatis, Machiavelli juga melihat manusia sebagai sosok egois. Dengan bersembunyi di balik pandangan umum, dia menuliskan, “…manusia itu tidak tahu berterima kasih, mudah berubah sikap, penipu dan pembohong, takut menghadapi bahaya, dan rakus mencari keuntungan,” (h. 115). Machiavelli bahkan memandang rendah arti cinta, “…ia (manusia) akan memutuskan ikatan cinta, kalau itu menguntungkannya,” (h. 116). Secara keseluruhan, Machiavelli memahami manusia sebagai makhluk yang fokus pada motivasi individual, ambisi, dan labil dalam hubungan interpersonal.

Asumsi Machiavelli tentang manusia juga merembes pada paradigmanya perihal masyarakat. Karakteristik masyarakat adalah rentan karena mereka mudah berubah sikap (h. 69). Bagi Machiavelli, jiwa masyarakat itu kerdil dan pengecut (h. 86). Oleh karena itulah, Machiavelli menganggap sebuah negara bisa ditertibkan hanya dengan aparatus hukum dan tentara (h. 95). Dengan kata lain, karena kerapuhan dan labilitasnya, Machiavelli memandang urgen untuk menertibkan masyarakat dengan kekuatan aparatus represif, yaitu hukum dan serdadu.

Dari kedua asumsi inilah, Machiavelli membangun filsafat politiknya. Machiavelli mengasumsikan karakter manusia serta masyarakat sebagai rentan dan labil. Sifat dari kekuasaan pun demikian, yaitu dinamis atau berubah-ubah. Dari halaman awal hingga akhir, Machiavelli akan menceritakan proses keruntuhan dan kebangkitan sebuah kekuasaan dalam sejarah politik Italia. Berbekal pengamatan itulah, Machiavelli merumuskan persoalan utama politik adalah perkara merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Lalu, bagaimanakah cara kekuasaan itu direbut dan dipertahankan? Machiavelli menawarkan lima cara untuk keperluan ini, yaitu 1) mengurus keamanan internal; 2) memperketat keamanan eksternal; 3) diplomasi dan kepemimpinan; 4) manajemen hubungan dengan para pembantu (menteri); dan 5) keberanian. Jika mengamati sepintas, lima cara ini terlihat biasa saja. Namun, problem antara tarikan kekuasaan dengan moralitas akan terlihat ketika Machiavelli menguraikan kelima cara ini.

Cara pertama, yaitu mengurus keamanan internal, langsung akan membuat kening kita berkerut. Machiavelli menyarankan agar raja baru menumpas keluarga penguasa rezim sebelumnya (h. 52) atau menimpakan penderitaan yang mustahil untuk dibalaskan (h. 54). Tindakan ini bertujuan untuk mengantisipasi bahaya di masa depan, yakni keluarga dari rezim lama akan membalaskan dendam (h. 56). Cara-cara lain untuk memastikan keamanan internal adalah, memastikan polarisasi dalam masyarakat (h. 65 –66), mengubah undang-undang (h. 68), dan membangun pasukan tentara yang kuat serta setia (h. 69–71, 95, 103–104). Polarisasi perlu agar masyarakat tercerai-berai sehingga melemahkan organisasi kekuatan untuk melawan. Sementara, undang-undang dan tentara berperan sebagai kekuatan represif untuk menetralkan berbagai ancaman dari masyarakat.

Bahkan, Machiavelli beranggapan menjadi jahat dan keji bukanlah persoalan (h. 79). Machiavelli bilang, “…jauh lebih baik ditakuti daripada dicintai, jika Anda tidak dapat memperoleh keduanya,” (h. 115). Machiavelli menganggap biasa kekejaman, asalkan, kekejaman itu efektif dalam mempertahankan atau merebut kekuasaan (h. 83). “Karena itu,” kata Machiavelli, “kalau seorang raja ingin mempertahankan pemerintahannya, ia harus mempelajari bagaimana bertindak secara tidak kesatria dan memanfaatkan atau tidak memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan,” (h. 110). Pendeknya, Machiavelli menganjurkan kejahatan perlu dilakukan atas nama keselamatan negara (h. 111). Artinya, bagi Machiavelli, kekuasaan terpisah dari moralitas bagaikan air dan minyak. Keduanya mustahil bersatu—dan tak perlu juga untuk dipersatukan.

Misal lainnya, Machiavelli menyarankan agar seorang penguasa dekat dan tinggal bersama rakyatnya (h. 86). Saran ini sepintas terdengar mulia. Namun, penilaian kita akan segera rontok ketika mengetahui alasan di balik anjuran itu. Seorang raja wajib mendekat pada rakyatnya, kata Machiavelli, agar dia melihat kehidupan mereka dari dekat sehingga mampu mengontrolnya. Selain itu, peran rakyat juga penting untuk mengamankan kekuasaan seandainya serangan dari luar mengancam (h. 87–90). Jika raja dekat dengan rakyat, perasaan dicintai oleh raja akan melekat di hati mereka. Rasa cinta inilah yang akan menimbulkan loyalitas dan patriotisme. Walaupun Machiavelli menganjurkan agar penguasa “bersahabat” dengan rakyat, namun kedekatan itu bersifat manipulatif dan instrumentalis. Pasalnya, raja memandang rakyat sebagai perkakas (instrumen) kekuasaan belaka. Dalam hal inilah, efektivitas dari kekejaman menjadi signifikan.

Niccolo Machiavelli
Niccolo Machiavelli

Cara kedua, yaitu memperketat keamanan eksternal, masih terkait dengan cara pertama, khususnya dalam hal kekuatan tentara. Machiavelli memandang penting peran tentara dalam sebuah negara (h. 105; 156). Seorang raja hanya menakuti dua hal, yaitu subversi dari dalam dan serangan asing (h. 122). Di antara dua ancaman ini, raja paling takut pada persekongkolan rahasia rakyatnya sendiri. Oleh karena itulah, seorang penguasa membutuhkan perlindungan. “Seorang kaisar,” kata Machiavelli, “tidak membutuhkan dukungan rakyat biasa.” Seorang penguasa lebih bersedia mempertaruhkan nasibnya pada serdadu (h. 126). Selain menjaga kekuatan tentara, Machiavelli juga menyarankan agar seorang raja memelihara oligarki (h. 64). Peran oligarki penting untuk memastikan orang-orang kuat bersekutu dengannya dan mencibir segala bentuk pemberontakan dari bawah. Pemeliharaan tentara dan oligarki akan meminimalkan pemberontakan dari rakyat.

Tiga cara lain mempertahankan kekuasaan kian menegaskan betapa etika dan moralitas bukanlah elemen penting dalam berpolitik bagi Machiavelli. Dalam hal diplomasi, misalnya, menghargai kepercayaan orang, berbelas kasih, dan nilai-nilai kebaikan tak perlu dipertimbangkan jika dianggap mengancam keberadaan negara (h. 120). Sementara itu, perihal menjaga hubungan dengan bawahan, raja mesti memastikan para menterinya merasa berhutang kepadanya sehingga kesetiaan mereka terpelihara (h. 144). Menariknya, para bawahan juga perlu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor. Saran Machiavelli, ”…para raja harus menunjuk orang lain untuk melaksanakan tindakan-tindakan yang kurang menyenangkan rakyat dan melakukan sendiri pembagian penghargaan kepada rakyat,” (h. 125). Terakhir, dalam hal keberanian, seorang raja mesti berani mengambil keputusan sendiri. Dalam hal mengambil keputusan, Machiavelli menyarankan agar “seorang raja harus selalu meminta nasihat, tetapi hanya kalau ia berkenan berbuat demikian.” (h. 146).

Machiavelli menuliskan kelima tata cara merebut dan mempertahankan kekuasaan di atas dengan lugas dan sederhana. Dia jujur mengutarakan isi pikirannya walaupun bertentangan dengan nilai-nilai moral saat itu. Karena kejujurannya pula, dia sangat optimis dengan pemikiran politiknya. Dalam surat pengantarnya kepada raja, Machiavelli mengatakan raja akan mencapai puncak kemuliaan jika merenungkan tulisannya (h. 47).

Akan tetapi, kelugasan, kepolosan, dan rasa optimis bukanlah batu uji sebuah pemikiran. Lewat “buku panduan” ini, Machiavelli sedang memoles wajah penguasa yang licik, garang, dan makhluk tanpa moralitas—seperti binatang. Machiavelli memang menuliskannya secara lugas, “seorang raja harus tahu bagaimana menggunakan dengan baik cara-cara binatang dan manusia,” (h. 118). Walau pada akhirnya, dari penilaian saya, Machiavelli lebih menekankan cara-cara kebinatangan daripada kemanusiaan. Dalam hal ini, Machiavelli sedang menciptakan seorang tiran.

Namun, Machiavelli juga menyadarkan kita mengenai cara pandang terhadap politisi. Machiavelli mengingatkan kita bahwa (mayoritas) mereka bukanlah orang suci. Mereka adalah orang-orang yang haus kekuasaan. Machiavelli menggambarkan dengan jelas bahwa prioritas seorang penguasa bukanlah kepentingan rakyat, melainkan kekuasaan. Tentara hadir bukan sebagai penjaga rakyat, tetapi untuk menetralisasi segala pengganggu stabilitas kekuasaan. Moralitas dan nilai-nilai kebaikan merupakan penghalang kekuasaan sehingga seorang penguasa boleh menerabasnya atas nama “keselamatan negara” cum kekuasaan. Pesan moral dari buku tipis Machiavelli adalah jangan pernah mengidolakan politisi, penguasa, atau presiden karena pada dasarnya mereka adalah para bandit.

Scroll to top