Berpikir Kritis untuk Merasionalkan Keputusan Politis

“Masalahnya bukan karena Johnny tidak bisa membaca. Masalahnya bukan karena Johnny tidak bisa berpikir. Masalahnya adalah Johnny tidak tahu apa itu berpikir; ia mencampuradukkannya dengan perasaan.” Pernyataan ini merupakan kritik dari ekonom, Thomas Sowell, atas hilangnya budaya berpikir kritis Amerika Serikat. Dia melihat generasi muda di zamannya telah mengganti proses berpikir rasional menjadi mengekspresikan perasaan belaka.
Fenomena hilangnya budaya berpikir kritis tidak hanya terjadi pada eranya Sowell di AS. Kita, di Indonesia juga sedang, bahkan masih, berada pada situasi itu. Apalagi jika diperhadapkan dengan dinamika politik, emosi kita masih menjadi raja dalam mengambil keputusan. Bukannya saling bertukar argumen, pentas politik kita bising dengan hiruk pikuk debat kusir dan kemarahan. Walhasil, politik menjadi berseberangan dengan tujuan asalinya, yaitu untuk memperbaiki tatanan sosial, karena kealpaan berpikir kritis.
Oleh karena itulah, kita perlu mengasah keterampilan berpikir kritis. Prinsip-prinsip filsafat bisa memandu kita dalam berpikir sehingga sikap dan keputusan politis kita rasional, bukan emosional.
Keterampilan Berpikir Kritis
Keterampilan adalah kecakapan dalam mengerjakan sesuatu. Kecakapan, dalam hal ini, merujuk pada dua unsur, yaitu proses dan hasil akhir. Seseorang dikatakan terampil jika dia tangkas dan mahir dalam bekerja. Hasil kerjanya pun tuntas dan rapi. Oleh karena itulah, keterampilan selalu mengandung unsur kecekatan dan ketepatan.
Namun, menjadi terampil bukan perkara mudah. Setidaknya, kita membutuhkan tujuan, pengetahuan, dan latihan. Ketiganya adalah satu kesatuan yang mesti dikerjakan secara bersamaan. Tujuan tanpa pengetahuan dan latihan akan membuat kita kehilangan fokus. Pengetahuan tanpa tujuan dan latihan hanya akan menjadikan kita sebagai teoretikus. Sementara itu, latihan tanpa tujuan dan pengetahuan hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Ketiga aspek ini harus lengkap agar kita bisa terampil dalam suatu bidang.
Keterampilan tidak selalu harus konkret atau melibatkan aktivitas fisik. Selain hard skills, seperti memasak atau membuat perkakas, masih ada soft skills yang lebih abstrak, tetapi tak kalah penting. Salah satu soft skills yang paling esensial adalah berpikir kritis. Berpikir kritis membantu kita memahami realitas. Keterampilan ini akan menjembatani antara apa yang kita tahu (pengetahuan) dan bagaimana kita merespons (praktik). Keterampilan ini perlu kita asah untuk menghadapi tantangan informasi di era modern.
Berpikir adalah kemampuan khas manusia dari makhluk lain. Memang, beberapa binatang, seperti simpanse, dikatakan bisa berpikir juga. Namun, fleksibilitas berpikir manusia jauh lebih rumit karena otak kita berkembang lebih kompleks daripada simpanse. Akibatnya, walau bisa berpikir, peradaban simpanse jomplang dibandingkan manusia. Mereka masih hidup bergelantungan di pohon dari dahulu hingga sekarang. Sementara, manusia sudah mampu menciptakan teknologi, bahasa, dan kebudayaan dengan kemampuan berpikirnya.
Berpikir merupakan aktivitas tak kasatmata karena ia adalah sebuah proses mental. Ia berlangsung secara internal dalam diri kita, yaitu melibatkan aktivitas otak dan sistem saraf. Otak menjadi terminal untuk mengelola informasi yang kita terima. Informasinya beraneka ragam, mulai dari sensasi indrawi, emosi, hingga data-data yang kita baca dari buku atau media. Otak akan menganalisis ragam data itu untuk memahaminya kita dapat mengambil keputusan. Atau setidaknya, analisis otak hanya sebatas untuk memaknai demi kesadaran eksistensial kita sebagai manusia. Kerja otak menangani data dan informasi inilah yang dikenal sebagai berpikir.
Berpikir bisa dibagi dalam beberapa jenis. Ketika kita merenungkan pengalaman sehari-hari, ini disebut berpikir reflektif. Saat sedang mencari solusi atas sebuah persoalan, kita sedang berpikir secara konvergen. Ketika sedang melukis atau mengerjakan hal-hal kreatif, kita sedang berpikir divergen. Namun, kebutuhan untuk mengevaluasi klaim, argumen, atau bukti menuntut kita untuk berpikir kritis. Jadi, kegiatan berpikir selalu bersinggungan dengan keperluan atau keadaan konkret yang sedang kita hadapi.
Berdasarkan keadaan konkret yang sedang kita hadapi hari-hari ini, berpikir kritis menjadi keterampilan yang mesti dikuasai. Perkembangan teknologi, khususnya ponsel, telah memudahkan akses pada informasi. Kita hanya butuh sebuah gerakan kecil dari jempol dan informasi itu sudah langsung tersedia. Kemudahan ini membuat informasi berlimpah, bahkan membanjiri kita. Informasinya pun bervariasi; mulai dari fakta, opini, bahkan hoaks berseliweran dengan bebasnya. Kondisi ini memaksa kita untuk berpikir kritis agar bisa memilah kebenaran dan kebohongan.
Kata “kritis” berasal dari bahasa Yunani, yaitu kritikos yang berarti kemampuan untuk membedakan, menilai, atau menghakimi. Pada abad ke-16, kata ini (critical) punya tendensi negatif. Ia dipahami sebagai kecenderungan mencari kesalahan atau suka menghakimi. Seabad kemudian dan hingga sekarang, kata “kritis” meluas artinya. Kritis diartikan sebagai kapabilitas menilai kebenaran berdasarkan pengetahuan dan kebijaksanaan. Singkatnya, kritis berarti terampil memilah dan memilih untuk menemukan kebenaran berdasarkan pengetahuan.
Prinsip-prinsip Filsafat dalam Membantu Berpikir Kritis.
Berpikir kritis, berdasarkan definisi di atas, merupakan kemampuan evaluatif sekaligus analisis. Kedua aktivitas ini (evaluasi dan analisis) memerlukan metode, yaitu prosedur tertentu untuk memastikan objektivitas hasil pemikiran. Ia membutuhkan sebuah sistem agar produk akhirnya tepat. Untuk kepentingan metode dan sistem inilah, prinsip-prinsip filsafat akan menolong kita dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis.
Dalam rangka mengembangkan keterampilan berpikir kritis pada konteks banjir informasi, setidaknya ada tiga prinsip berfilsafat yang perlu kita pelajari. Tiga prinsip itu adalah skeptis, logis, dan dialektis. Skeptis mengajari agar mencurigai semua informasi yang kita terima. Pengertian “curiga” harus kita maknai secara positif. Mencurigai berarti kita menunda untuk segera percaya pada apa yang kita dengar. Dalam penundaan itulah, logika mulai bekerja. Logika adalah aturan-aturan tentang berpikir untuk mengolah berbagai premis atau informasi demi sebuah kesimpulan yang valid. Namun dalam keseharian, kita kerap kali menemukan informasi yang saling bertentangan. Kalau kontradiksi data ini lolos dari verifikasi logika, sintesis akan menolong kita mencari “jalan tengah”.
Sikap skeptis, logis, dan dialektis akan membantu kita dalam berpikir kritis. Misalkan, kita membaca sebuah berita viral di media sosial. Langkah pertamanya, kita mesti mencurigai kebenaran dari berita itu. Kecurigaan ini akan memaksa kita mencari sumber lain. Informasi dari sumber lain itu kemudian kita bandingkan satu per satu dengan bantuan logika. Kita memeriksa konsistensi dan korespondensi (kesesuaian dengan fakta) dari masing-masing informasi. Logika akan menyortir informasi bohong dan benar. Ketika informasi yang benar sudah terkumpul dan kita masih menemukan kontradiksi, sintesis akan maju bertugas. Sintesis akan membantu kita menemukan kebenaran lain yang mungkin terlewatkan oleh berita viral itu. Ketika kesimpulan dari sintesis sudah ada, kita akhirnya bisa memutuskan sikap atas berita tersebut.
Berpikir Kritis, Prinsip Filsafat, dan Rasionalitas
Sebagai salah satu negara pengguna media sosial terbanyak, berita viral menjadi konsumsi keseharian kita. Selain isu hukum dan ekonomi, berita viral itu seringkali bicara tentang politik. Sudah menjadi rahasia umum, para pejabat, politisi, bahkan pemerintah mempunyai pasukan pendengung atau buzzer. Mereka bertugas untuk mempropagandakan agenda-agenda tuannya. Para buzzer ini lihai dalam memainkan narasi untuk memengaruhi keputusan atau sikap politis kita. Kalau mengabaikan pemikiran kritis, keputusan politis kita bisa salah.
Keputusan politis adalah pilihan atau tindakan kita yang berimplikasi langsung terhadap masyarakat luas. Contohnya, pemilihan presiden, anggota legislatif, dan kepala daerah. Keputusan kita untuk memilih orang-orang untuk menduduki jabatan ini akan berdampak secara langsung bagi masyarakat. Jika kita salah memilih orang, kerugiannya akan masif dan kerusakannya akan berskala besar. Oleh karena itulah, keputusan politis harus diambil dengan cara yang ekstra hati-hati.
Seringkali, keputusan politis kita diganggu oleh ragam informasi yang salah (misinformasi), bahkan sengaja disalahkan (disinformasi). Seorang timses dari salah satu paslon dalam kontestasi pilpres kemarin mengakuinya pada siniar Akbar Faizal Uncensored. Dengan bangga dia mengatakan, “Tujuan kami bukan untuk mendidik rakyat. Tujuan kami adalah menang.” Percakapan tentang visi, argumen rasional, dan program kerja, menurut dia, tidak efisien bagi pemilih Indonesia. Sebagai pengurus konten kampanye di media sosial, dengan enteng dia mengatakan, “Kami mempermainkan emosi pemilih, bukan rasionalitas mereka.”
Pengakuan timses itu menunjukkan bahwa media sosial adalah mesin propaganda. Konten-konten politik di sana hadir bukan untuk mengedukasi, tetapi memanipulasi. Sependek pengamatan saya, jenis konten seperti itu masih ada hingga hari ini walaupun pemilu dan pilkada telah usai. Oleh karena itulah, berpikir kritis menjadi keharusan bagi kita. Dengan menerapkan prinsip-prinsip filsafat dalam berpikir, kita akan menjadi lebih rasional dalam menyikapi berita politik di media. Berpikir dan rasional akan membuat kita lebih tenang dalam mengambil keputusan politis karena sudah mempertimbangkan berbagai aspek.
Kesimpulan
Berpikir kritis adalah sebuah keterampilan. Ia bisa diasah dengan cara menerapkan prinsip-prinsip berfilsafat, seperti, skeptis, logis, dan dialektis. Melatih keterampilan ini penting bagi kita dalam menghadapi banjir informasi di media sosial, khususnya mengenai dinamika politik. Dengan berpikir kritis, sikap kita akan menjadi rasional ketika hendak menentukan sikap. Berpikir kritis dengan bantuan prinsip filsafat akan menjauhkan kita dari sikap gegabah dan emosional dalam menetakkan keputusan politis.
Mungkin, sudah saatnya perilaku kita saat menggunakan media sosial harus diubah. Kita harus mulai mengedepankan argumen daripada sentimen. Kita sebaiknya membiasakan diri untuk mencurigai berita agar memberi waktu bagi logika untuk bekerja. Dengan menganalisis dan mengevaluasi secara cermat, kita mungkin akan menemukan sebuah kebenaran yang lebih utuh.