Lingkaran Emas Sumber Inspirasi untuk Memengaruhi
Pengalaman berorganisasi ketika masih mahasiswa mengajarkan banyak hal kepada saya. Aktivitas berorganisasi memberi pelajaran kepada saya tentang membangun komunikasi, bekerja dengan tim, membuat program kerja, dan sebagainya. Namun, satu hal yang paling berkesan dalam berorganisasi adalah ia menanamkan paradigma berpikir tentang pentingnya menyatukan visi dan aksi. Simon Sinek, penulis buku ini, menyatukan visi dan aksi itu dalam sebuah lingkaran yang disebutnya sebagai lingkaran emas.

Pengarang: Simon Sinek
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan, Tahun Terbit: Pertama, 2019
ISBN: 978-602-06-2883-7
Lingkaran Emas Sumber Inspirasi: Start with Why
Simon Sinek memotret harmonisasi visi dan aksi ini dalam bukunya START WITH WHY: Cara Pemimpin Besar Menginspirasi Orang untuk Bertindak. Pengalaman hidupnya berperan sebagai inspirasi utama dalam menulis buku ini (h. 323–329). Dia seorang lulusan antropologi dan pakar strategi di dunia pemasaran dan iklan. Pada Februari 2002, dia dan beberapa temannya membangun sebuah bisnis konsultan penempatan posisi dan strategi. Bisnisnya cukup berkembang. Mereka bahkan memiliki beberapa klien yang masuk ke dalam daftar FORTUNE 500. Tiga tahun kemudian—September s.d. Desember 2005—dia merasakan sesuatu telah hilang. Sebagai pakar, dia mengerti cara menjalankan bisnis dan mengembangkan perusahaannya. Hanya saja, gairah dan antusiasmenya menguap tak tahu sebabnya. Aktivitas bisnis kemudian berganti menjadi sekadar rutinitas. Walau perusahaannya lumayan maju, Sinek merasa pekerjaannya kehilangan makna.
Menyadari telah kehilangan passion, kehidupan Sinek merangkak menuju depresi. Dia menyadari sesuatu telah hilang dari dirinya, tetapi dia tidak mengetahui apa yang hilang. Hingga pada suatu hari, dia bertemu dengan Victoria Duffy Hopper. Hopper menjelaskan kepadanya tentang biologi otak dan perilaku manusia. Percakapan itu kemudian menjadi pemantik untuk menuntunnya pada sebuah temuan tentang Lingkaran Emas. Lingkaran Emas menyadarkan Sinek bahwa pengetahuan tentang APA dan BAGAIMANA bukanlah kunci kesuksesan. Justru, sumber motivasi terkuat untuk menggerakkan antusiasme adalah jawaban atas pertanyaan MENGAPA.
Konsep Lingkaran Emas (Bab 3 dan 4) menjadi inti (landasan teori) dari buku setebal 358 halaman ini. Lingkaran Emas berangkat dari perbandingan emas (golden ratio) yang sudah lama diamati oleh para matematikawan, biolog, arsitek, dan seniman sejak awal sejarah (h. 53). Selain itu, Sinek melihat Lingkaran Emas sebagai miniatur kontur otak sebagai mastermind perilaku manusia (h. 81) yang terdiri dari lapisan otak limbik dan neokorteks. Jadi, Lingkaran Emas berdasar pada temuan saintifik, bukan sekadar imajinasi Sinek.
Lingkaran Emas sederhananya adalah tiga lapis lingkaran yang mewakili tindak-tanduk perilaku manusia (h. 55). Lingkaran di lapis terluar mewakili APA, yaitu tindakan manusia kasat mata, produk/jasa sebuah perusahaan, atau fungsi sebuah organisasi. Bentuk APA adalah konkret dan nyata. Sementara itu, lingkaran pada lapis kedua adalah BAGAIMANA yang berfokus pada proses dalam menciptakan APA. Terakhir, lingkaran ketiga—lingkaran terkecil dan berada pada tengah lingkaran—adalah MENGAPA. Lingkaran ketiga adalah inti dari Lingkaran Emas. Isinya adalah percakapan perihal tujuan, kepercayaan, atau isu perjuangan. Untuk mencapai sukses, ketiga lingkaran harus berjalan seimbang (h. 273), konsisten (h. 100) dan kontinu (h. 234). Ketika tiga hal di atas sudah terwujud, kepemimpinan seseorang akan menjadi autentik (h. 101)
Buku ini menuturkan pengamatan Sinek dari kisah sukses industri-industri raksasa di dunia, seperti, Apple, Microsoft, Walmart, dan sebagainya. Selain itu, dia juga memetik pelajaran dari tokoh-tokoh pengubah dunia, misalnya, Orville dan Wilbur Wright (penemu pesawat terbang) dan Martin Luther King Jr. (aktivis sosial yang mengubah paras peradaban AS dan dunia). Pembacaan Sinek bergerak pada satu kesimpulan, yaitu kisah sukses selalu bermula di awal proses (h. 19, 72). Perusahaan besar dan tokoh-tokoh pengubah dunia di atas selalu mengawali tindakannya dengan bertanya, “Mengapa?” (h. 54, 201). Dengan kata lain, sebelum membicarakan APA produk yang harus diciptakan dan BAGAIMANA cara melakukannya, mereka mengawali tindakannya dengan menentukan nilai dan makna dari pekerjaan itu. Untuk menemukan nilai dan makna itulah, mereka harus mencari jawaban atas pertanyaan, “MENGAPA saya harus melakukan ini?” Ringkasnya, jawaban atas MENGAPA akan memandu jalan BAGAIMANA mewujudkan nilai itu untuk menghasilkan APA produk yang diinginkan. Inilah alasannya Sinek menjuduli bukunya, START WITH WHY.

Tugas Pemimpin adalah Memengaruhi
Sependek pengamatan saya, mengawali dengan MENGAPA adalah sebuah konsep baru dalam teori kepemimpinan. Percakapan tentang kepemimpinan biasanya berawal dari konsep klasik John C. Maxwell, “Leadership is influence.” Wacana, bahkan polemik, teori kepemimpinan kemudian bermunculan untuk menjawab sebuah pertanyaan sederhana, “Bagaimana cara memengaruhi orang lain?” Sinek memotret dinamika diskursus ini pada bab awal bukunya. Dia mengatakan, “Hanya ada dua cara untuk memengaruhi perilaku manusia, yakni memanipulasi atau menginspirasi.” (h. 22).
Manipulasi adalah cara paling umum, yaitu dengan hadiah, promosi, rasa takut, aspirasi, tekanan kelompok, inovasi, dan sebagainya (h. 23–48). Kita mengistilahkan teknik manipulasi ini sebagai konsep punish and reward (Bab 2). Sinek memang mengakui cara-cara memengaruhi seperti ini ampuh. Namun, hasilnya bersifat sementara atau jangka pendek karena tidak menumbuhkan kesetiaan (h. 48).
Cara terbaik untuk memengaruhi orang adalah dengan menginspirasi. Inspirasi lahir dari jawaban atas pertanyaan MENGAPA. Sinek mengelaborasi konsep ini lebih lanjut. MENGAPA bukan sekadar persoalan tujuan/visi, kepercayaan, atau isu perjuangan. Melampaui itu semua, MENGAPA berbicara tentang gairah (passion), yaitu sesuatu yang melampaui penjelasan rasional. Inspirasi berurusan dengan emosi. Inspirator sejati adalah mereka yang terampil merebut hati sebelum memenangkan pikiran orang lain (h. 88). Inspirasi tidak melulu bicara tentang fakta dan angka. Dengan kata lain, memengaruhi orang dengan inspirasi adalah bersifat pribadi, bersentuhan dengan nilai kepercayaan, keyakinan, dan bukan pengalaman rasional (h. 124). “Ini soal iman,” kata Sinek (h. 94). Inspirasi membuat seseorang akan mengikuti pemimpin karena mereka ingin, bukan karena mereka wajib. Dalam hal inilah, kepercayaan bermetamorfosis menjadi gerakan.
Jika membahasakan ulang, kebaruan yang Sinek tawarkan dalam teori kepemimpinan adalah dia meletakkan fondasi bangunan kepemimpinan di atas harapan. Untuk memengaruhi orang lain, Sinek tidak memprioritaskan kita untuk mengingat nama klien, menguantifikasi kekuatan dan kelemahan organisasi, atau membaca gerak tubuh semata seperti kata ceramah para motivator. Lebih dari itu, kekuatan kepemimpinan terletak pada kemampuan untuk berbagi harapan tentang sebuah perjuangan dalam memperbaiki peradaban.
Hanya saja, buku ini juga tak luput dari kelemahan. Sinek menggunakan teknik bertutur cerita (story telling) dalam menyampaikan gagasannya. Dia menghabiskan beberapa halaman untuk menceritakan sebuah kejadian hanya untuk menyampaikan sebuah pesan moral pendek. Apalagi, Sinek kerap mengangkat cerita yang hampir mirip dan pesan moralnya pun tidak jauh berbeda dari kisah-kisah sebelumnya. Saya malah seringkali melompati beberapa paragraf—bahkan beberapa halaman—karena merasa bisa menebak topik pembicaraannya. Akibatnya, saya (sebagai penikmat buku-buku teori) merasa buku ini terlalu bertele-tele.
Kesimpulan
Namun, walau demikian, saya tetap merekomendasikan buku START WITH WHY ini sebagai bacaan wajib, spesifiknya, bagi para pegiat organisasi nirlaba. Berbeda dengan karyawan perusahaan yang berorientasi profit, para aktivis organisasi nirlaba kerap sulit berkembang karena uang bukanlah motor penggerak. Karyawan “mudah dimanipulasi” dengan gaji, bonus, dan promosi untuk mengikat “loyalitas” dan meningkatkan produktivitas. Namun, teknik memengaruhi seperti ini tidak efisien bagi para pegiat organisasi nirlaba. Alasannya karena, selain pada umumnya kemampuan finansialnya rendah, mereka yang bekerja di sana bergerak hanya karena satu alasan, yakni ingin berbuat baik. Dalam hal inilah, MENGAPA dari perbuatan baik itu menjadi sumber inspirasi pertama dan utama—bukan uang—dalam mengubah gagasan (BAGAIMANA) menjadi gerakan (APA).
Akan tetapi, bukan berarti saya melarang para pemimpin perusahaan profit membaca buku ini. Para profesional bisnis juga perlu mencermati isi buku ini. Di atas telah dituliskan, dampak dari teknik manipulasi punish and reward hanya bersifat sementara. Oleh karena itulah, para pebisnis perlu membaca buku ini untuk memahami cara memimpin karyawan dengan kekuatan inspirasi, bukan iming-iming kenaikan bonus dan gaji.