BERTEOLOGI HARUS BERGUNA BAGI MASYARAKAT
Kapan Anda terakhir kali membaca buku tertatih-tatih karena merasa bosan dengan isinya? Namun, walau titik didih kejenuhan sudah memuncak, Anda terus membolak-balik halamannya. Rasa ingin tahu disertai harapan akan menemukan hal baru terus memaksa Anda mengikuti deretan huruf hingga halaman terakhir buku. Tanda titik terakhir di buku kemudian mengucapkan selamat tinggal kepada Anda yang sedang bergumam, “Sialan, tak ada yang baru!”

Jika ingin mengalami pengalaman ganjil seperti ini, khususnya bagi penikmat teologi, bacalah buku Berteologi Baru untuk Indonesia (Kanisius, 2020). Judulnya genit karena editor atau penerbit menyematkan kata “baru” dalam tajuknya. Kata “baru” selalu menggoda karena ia seolah sedang membisikkan, “Kamu belum tahu ini, loh!” Begitulah ceritanya, saya pun terprovokasi untuk membaca buku setebal 400-an halaman ini.
Pada mulanya, buku ini hadir untuk menyambut pembukaan program Doktor Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang. Kemudian, empat puluhan penulis menyumbangkan pemikirannya sebagai “upaya bersama” memantik pencarian model-model metodologi berteologi untuk Indonesia (h. viii). Benang merah pengikat mereka adalah keresahan yang sama perihal kondisi berteologi di Indonesia. Mereka melihat teologi di Indonesia belum mandiri karena masih berkutat pada pengulangan teologi Barat (h. 69). Karena bermasalah dalam kemandirian, teologi kita menjadi tidak relevan, bahkan mendatangkan krisis iman bagi warga gereja (h. 74, 83). Kehadiran program Doktor Teologi di STFT Widya Sasana diharapkan mampu mengatasi persoalan ini.
Berdasarkan keresahan atas relevansi teologi di Indonesia itulah, buku ini menggeser paradigma berteologi ke arah “baru”. Seluruh penulis sepakat untuk mengganti orientasi berteologi dari perspektif Allah yang transenden kepada Allah yang bergumul dalam kehidupan nyata (h. xvii). Dengan kata lain, kebenaran teologi bukan hanya perkara ilahi, melainkan juga hidup sehari-hari. Para penulis menyerukan agar teologi berinteraksi dengan perkara-perkara zaman dan beradaptasi dengan pengalaman publik (h. xii, xv). Lewat interaksi itu, teologi diharapkan mampu menghadirkan praksis yang berkekuatan transformatif dalam masyarakat (h. x, 183). Pendeknya, berteologi berarti berdialog dengan dunia.
Dialog membuka ruang bagi teologi untuk mendengarkan aspirasi realitas kehidupan masyarakat (h. 29). Hasil pendengaran itu kemudian didiskusikan dengan Wahyu Ilahi dan tradisi gereja (h. 74) guna merelevankan sebuah refleksi teologis. Itulah sebabnya sifat dari teologi menjadi interdisipliner karena dialog mengharuskannya berkolaborasi dengan ilmu-ilmu lain, seperti, etika, sosiologi, dan antropologi (h. 85). Dalam hal ini, refleksi kritis dari teologi menjadi bernuansa sosial (h. 264).
Tekanan buku ini pada relevansi, dialog, interdisipliner, dan nuansa sosial sebenarnya bukan hal baru dalam dunia teologi. Hampir setengah abad yang lalu, ketika teologi pembebasan lahir di Amerika Latin, tekanan teologi untuk menjawab pergumulan ekonomi-politik sudah muncul. Teologi pembebasan malah berani berinteraksi dengan Marxisme yang dicap oleh Gereja Katolik sebagai paham terlarang. Bahkan, jika melacak pada kisah-kisah di Alkitab, kehadiran teologi selalu merupakan respons terhadap pergumulan sosial. Dengan kata lain, teologi sudah bernuansa sosial pada dirinya sendiri. Ketika buku ini menekankan relevansi, dialog, dan interdisipliner sebagai “baru”, pesan utama buku ini menjadi normatif dan repetitif. Pendeknya, klise!
Repetitif, normatif, dan klise membuat tulisan-tulisan dalam buku ini terasa kering dan membosankan. Empat puluh tulisan hanya berisi panorama berteologi kontekstual. Semua disajikan dalam bentuk gambaran besar sehingga melewatkan detail-detail penting. Misalnya, bagaimana prosedur berteologi dalam konteks interdisipliner (h. 146)? Bagaimana meredam konflik wawasan dunia untuk membangun sebuah sintesis? Jawaban atas pertanyaan penting ini justru hilang. Dengan kata lain, kebaruan dalam berteologi sama sekali tidak terlihat.
Satu-satunya hal positif yang ditawarkan oleh buku ini adalah ia mengingatkan kita kembali tentang signifikansi dari berteologi. Berteologi bukan sekadar mengulang-ulang doktrin. Melampaui itu, berteologi adalah menarasikan realitas dari perspektif iman (h. 265). Fungsi utama dari berteologi adalah mewujudkan iman dan berkontribusi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di ruang publik (h. 41, 199). Pendeknya, walau tidak menawarkan kebaruan, buku ini mengingatkan para pelaku teologi untuk berguna masyarakat.