Seruan PARKINDO Hari Buruh Internasional

“Kaum buruh seluruh dunia, bersatulah!” demikianlah Karl Marx dan Friedrich Engels menutup Manifesto Partai Komunis yang terkenal itu. Jika sejarah dipandang sebagai epos perjuangan kelas, buruh harus mampu memanfaatkan kekuatan dominannya, yaitu kuantitas, untuk memenangkannya. Tanpa kesatuan, selain mudah dikalahkan, buruh malah bisa diperalat sebagai instrumen politik demi keuntungan penindasnya. Persatuan buruh merupakan fondasi utama gerakannya untuk menentukan nasibnya sendiri.

Namun, walau persatuan berperan penting, gerakan buruh hari-hari ini justru menunjukkan cerita sebaliknya. Mereka malah tercerai-berai karena ragam alasan, mulai dari pertengkaran ideologi hingga berkompetisi untuk rebutan anggota organisasi. Kita lihat saja, misalnya, Partai Buruh yang diketuai Said Iqbal. Terlepas dari semua pro/kontranya, fakta di lapangan menunjukkan dukungan dari gerakan progresif dan serikat-serikat buruh kurang total terhadap mereka. Fenomena ini menunjukkan sebuah ironi dalam tubuh gerakan buruh itu sendiri.    

Dalam konteks tercerai-berainya gerakan buruh ini, Partisipasi Kristen Indonesia (PARKINDO) merasa perlu untuk menyerukan suara kekristenan sebagai bagian dari tanggung jawab moral Kristen. Dalam hal ini, kami mendorong gereja, sebagai representasi Kristus di dunia, agar turut berpartisipasi untuk menawarkan solusi atas permasalahan kesatuan buruh ini. Karena biar bagaimanapun, mayoritas jemaat gereja bisa dipastikan adalah buruh. Oleh karena itulah, gereja perlu hadir sebagai sahabat dengan cara meningkatkan kesadaran buruh untuk berserikat agar mereka bisa menentukan nasibnya sendiri.

Buruh: Berjasa dan Dilupakan

Gereja perlu mempercakapkan kondisi buruh karena mereka adalah poros perputaran ekonomi. Buruh adalah satu-satunya kelas masyarakat yang terlibat langsung dalam tiga rantai pergerakan ekonomi, yaitu produksi, konsumsi, dan distribusi. Kita pasti mendapati jejak kerja tangan buruh pada setiap barang yang kita pakai. Selain memproduksi, buruh juga konsumen terbesar. Jika daya beli mereka rendah, sirkulasi distribusi barang akan melemah yang niscaya berdampak para pertumbuhan ekonomi. Mengingat betapa krusialnya peran buruh bagi perekonomian, gereja sudah melakukan blunder besar jika tidak mengingat mereka.   

Namun ironisnya, walau perannya sentral, nasib buruh malah kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Tidak perlu data statistik untuk membenarkan kenyataan bahwa buruh identik dengan kemiskinan. Buruh selalu mengerang setiap tahun kepada penguasa agar memerhatikan upah mereka. Pertambahan gaji mereka kerap berbanding terbalik dengan peningkatan biaya hidup. Mengingat betapa krusial perannya dan kecilnya gaji mereka, selain dilupakan, buruh adalah korban pengeksploitasian.

Dari sekian banyak faktor, salah satu penyebab dominan buruh menjadi korban eksploitasi adalah karena rendahnya daya tawar politik mereka. Sejarah dunia modern sudah menunjukkan bahwa ekonomi bukanlah entitas yang terisolasi dari politik. Produk politik berupa regulasi, misalnya, akan berdampak mutlak pada kesejahteraan buruh. Lagi-lagi ironisnya, akses buruh untuk membuat aturan demi kepentingan mereka bisa dikatakan nyaris tidak ada. Sebaliknya, enam puluh persen para regulator di Dewan Perwakilan Rakyat disebutkan malah terafiliasi dengan dunia bisnis (Kompas, 2/10/2024). Komposisi yang berat sebelah ini sudah pasti akan menghasilkan kebijakan politik yang merugikan buruh.

Buruh dan Urgensi Persatuan

Akan tetapi, mengemis perhatian dari rezim untuk kesejahteraannya pada dasarnya mengasumsikan buruh adalah objek sejarah. Buruh dianggap kehilangan kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Seolah, tanpa belas kasihan dari penguasa, buruh akan terlunta-lunta. Pandangan seperti ini berlaku hanya pada dunia feodalistis.

Kekristenan selalu menganggap individu sebagai manusia merdeka. Salah satu isu yang membuat Tuhan bergerak dalam sejarah pembebasan Israel dari perbudakan Mesir adalah kebebasan. “Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku,” firman Tuhan kepada Firaun melalui Musa (Kel. 4:23). Perintah ini mengasumsikan sistem perbudakan telah mengekang kebebasan Israel untuk beribadah kepada Tuhan. Selain karena dehumanisasi akibat perbudakan, pemberangusan kebebasan menjadi masalah serius bagi Tuhan. Dengan kata lain, memastikan terjaminnya kebebasan menjadi salah satu alasan-Nya untuk turun tangan secara langsung dalam misi pembebasan Israel. Dengan mengandaikan kebebasan, kekristenan selalu melihat manusia sebagai Subjek sejarah. Manusia dapat menentukan nasibnya sendiri secara mandiri.

Prinsip bahwa manusia sebagai Subjek sejarah juga berlaku bagi buruh. Buruh sendirilah yang bertanggung jawab pada kesejahteraannya. Buruh adalah individu bebas. Buruh bukan sekadar objek yang hanya patuh pada regulasi yang pembuatannya tidak melibatkan mereka. Oleh karena itulah, buruh harus menentukan kesejahteraannya sendiri dengan menciptakan regulasi demi kepentingannya secara sah dan konstitusional.    

Cara pertama dalam mewujudkan buruh sebagai Subjek sejarah adalah dengan menggalang persatuan. Yesus Kristus sadar betul akan kekuatan persatuan ini. Dia mengatakan bahwa kerajaan iblis pun akan hancur berantakan jika tidak bersatu (Mat. 12:25–26). Contoh terbaik untuk menunjukkan perlunya kesatuan bisa kita lihat dari perbandingan laju kapitalisme dengan gerakan buruh. Salah satu penyebab kapitalisme selalu “unggul” adalah mereka “kompak” dalam banyak hal. Mereka dipersatukan oleh profit belaka. Sementara itu, mimpi “Internasionalisme” dari gerakan buruh belum menunjukkan gelagatnya hingga sekarang. Gerakan buruh masih memahami slogan “The Workers of the World, Unite!” sebatas jargon belaka. Banyak gerakan buruh masih memperdebatkan kemurnian ideologi dan aneka kepentingan pragmatis lainnya. Sejalan dengan ajaran Yesus, apa pun slogan, jargon, dan rupa analisisnya, jika buruh tidak bersatu, mereka tidak akan pernah mampu menjadi Subjek sejarah.

Relasi Dialektis antara Kesadaran Dan Persatuan

Kami juga menyadari bahwa mewujudkan persatuan tak semudah membicarakannya. Pertanyaan klasik, seperti, “Apakah wujud dari kesatuan itu adalah berupa institusional atau sebatas pada operasional semata?” masih menjadi misteri. Bahkan, kita juga tak boleh menutup mata bahwa gereja justru merupakan lembaga yang paling sulit bersatu. Artinya, usaha bersatu merupakan keinginan kita yang terlihat mudah, tetapi menyembunyikan aneka kompleksitas dalam perwujudannya.

Kompleksitas impian mewujudkan persatuan ini kian terasa jika diletakkan dalam konteks buruh. Masyarakat sering kali menaruh curiga pada serikat buruh. Serikat buruh korup dan sering dipolitisasi sudah menjadi cerita biasa buat kita. Bahkan, kabar angin yang bilang serikat buruh malah dibentuk oleh pengusaha sendiri untuk membungkam karyawannya sudah dianggap sebagai fakta, bukan gosip belaka. Mayoritas dari kita sudah tidak lagi percaya pada kekuatan serikat buruh. Citra negatif serikat buruh malah kian mempersulit usaha merealisasikan persatuan buruh.  

Apakah pada situasi kesatuan yang retak-retak ini, alasan “rendahnya kesadaran” buruh masih bisa dijadikan kambing hitam? Pada dasarnya, kami merasakan kesulitan untuk menyodorkan jawaban hitam-putih atas problem ini. Namun, pada analisis terakhir, kami menyadari bahwa terdapat relasi dialektis antara kesadaran dan persatuan.

Jika meminjam definisi Paulo Freire, kesadaran adalah kemampuan reflektif manusia dalam memahami realitasnya untuk bertindak. Freire memandang refleksi bukanlah kegiatan soliter, melainkan hasil interaksi manusia dengan kenyataannya. Artinya, seseorang memikirkan sesuatu berdasarkan realitasnya sekaligus realitasnya tersebut juga memengaruhi cara berpikirnya. Hasil akhir dari interaksi antara refleksi dan realitasnya ini adalah aksi transformatif terhadap kenyataan.

Berangkat dari definisi kesadaran versi Freire ini, kesadaran dan persatuan pun berelasi dialektis. Buruh bersatu karena mereka sadar, tetapi mereka pun sadar karena bersatu. Dengan kata lain, kesadaran mereka memengaruhi tindakannya sekaligus tindakan mereka pun memengaruhi kesadarannya. Artinya, kesadaran dan usaha persatuan harus dikerjakan secara simultan dalam relasi dialektis, bukan mekanis.

Seruan PARKINDO: Edukasi sebagai Bentuk Solidaritas Gereja

Dalam relasi dialektis antara kesadaran dan persatuan inilah, gereja bisa berperan. Freire mengatakan edukasi adalah satu-satunya cara untuk membentuk kesadaran. Salah satu tugas Amanat Agung dari Yesus adalah agar gereja mengajar umat-Nya (Mat. 28:20). Peran gereja tidak hanya sebatas menyelenggarakan perayaan ibadah. Gereja juga bertanggung jawab untuk menggelar dialog dan komunikasi (dua elemen penting dalam edukasi versi Freire) dengan jemaat. Tujuan dari edukasi itu adalah menciptakan kesadaran kristiani dalam diri jemaat.

Peran edukasi bagi kaum buruh dari gereja menjadi kian penting mengingat identitas dan komposisi buruh itu sendiri. Selain peran sentral mereka dalam dunia ekonomi, buruh (seperti yang sudah dikatakan sebelumnya) adalah mayoritas jemaat gereja. Dengan demikian, gereja bertanggung jawab menyadarkan mereka atas hak dan kewajiban mereka dari perspektif kekristenan. Tanpa menjalankan amanat edukasi ini, gereja sudah mengingkari ajaran Yesus pada Amanat Agung itu.

Secara spesifik, edukasi gereja terhadap kaum buruh perlu menyasar pada pentingnya menciptakan kesatuan yang solid di kalangan buruh. Berangkat dari prinsip kesatuan dari ajaran Yesus, kesatuan menjadi kekuatan utama buruh agar mampu menentukan nasibnya sendiri. Tanpa kesatuan, seperti yang telah diuraikan, buruh hanya akan menjadi objek sejarah. Padahal, memperlakukan buruh sekadar sebagai objek bertentangan dengan ajaran kekristenan yang selalu menempatkan manusia sebagai Subjek. Artinya, edukasi gereja perihal kesatuan buruh agar mampu menjadi manusia merdeka adalah tugas ilahi dari Kristus sendiri.

Walau belum mengetahui orientasi atau bentuk dari persatuan itu, setidaknya, PARKINDO menyerukan agar gereja mengambil peran sebagai fasilitator untuk membuka ruang dialog bagi buruh. Gereja tentu saja tidak menyediakan jawaban atas semua pertanyaan. Namun paling tidak, gereja bisa membuka pintu untuk belajar dan bergumul bersama buruh untuk mencari jawaban. Dalam hal ini, seperti doktrin inkarnasi Yesus, gereja mencoba untuk bersolidaritas dengan buruh lewat dialog, komunikasi, dan edukasi.

Kesimpulan

Secara hiperbolis, kita bisa mengeklaim bahwa buruh adalah tulang punggung peradaban dunia modern. Namun ironisnya, nasib mereka kerap dilupakan. Kesejahteraan mereka, misalnya, kerap diabaikan oleh karena penguasa. Bukan hanya dilupakan, buruh malahan juga selalu menjadi korban eksploitasi. Hal ini terjadi karena buruh tidak bersatu sehingga mereka tidak mampu menjadi sebuah kekuatan politik. Sudah lazim, kebijakan politik selalu beririsan dengan kepentingan ekonomi. Oleh karena itulah, jika buruh ingin menentukan nasibnya sendiri, mereka harus bertransformasi menjadi sebuah kekuatan politik. Cara pertamanya adalah dengan mengusahakan persatuan di antara mereka.

Pada situasi inilah, peran gereja menjadi penting. Partisipasi gereja untuk bersolidaritas dengan buruh bisa terekspresi lewat edukasi. Inti dari edukasi adalah terciptanya proses dialog antara gereja dengan buruh untuk menciptakan kesadaran betapa pentingnya kesatuan. Dengan demikian, gereja memahami visi Yesus, yaitu Ut Omnes Unum Sint, secara eksklusif. Gereja kini memahami kesatuan bukan hanya untuk murid Kristus semata, tetapi juga bagi buruh.

Scroll to top