GMKI: Gerakan Melempar KursI

Kursi-kursi sedang beterbangan.

Kericuhan terjadi pada Kongres XXXIX Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Samarinda. Video yang beredar di media sosial menunjukkan kursi plastik beterbangan ketika acara sedang berlangsung. Sebelum kursi-kursi itu melayang, suasana sempat kisruh antar anggota kongres. Seruan dari mikrofon meminta agar peserta kembali duduk. Namun, ketika suasana kian memanas, tiba-tiba seruan dari mikrofon berubah menjadi makian, “Duduk, anj**g!” Kursi-kursi pun kian banyak lalu-lalang di udara.

Setelah menonton video itu, saya tercenung. Separah inikah gerakan mahasiswa Kristen? Apakah ini menandakan orientasi organisasi mahasiswa sudah berubah dari wadah latihan agar berperan di masyarakat menjadi arena simulasi cara merebut kekuasaan?

Saya merasa, pertanyaan terakhir di atas wajar saja. Mengapa harus memaki dan saling melempari kursi dalam sebuah kongres yang meletakkan kekristenan sebagai falsafah organisasi? Selain membaca informasi dari media-media, saya juga mendengar penjelasan kejadian memalukan itu dari seorang senior GMKI—yang kebetulan adalah Abang saya. Penjelasan-penjelasan mereka semakin memperkuat keyakinan saya bahwa GMKI memang sudah mengalami disorientasi gerakan.   

Mengapa saya meyakini telah terjadi disorientasi gerakan dalam tubuh GMKI? Kita sebenarnya tak memerlukan informasi akurat dari orang dalam untuk menjelaskan penyebab aksi saling lempar itu, selain akal sehat. Apakah mereka mungkin saling lempar kursi karena berselisih paham tentang cara-cara konkret mengubah agama menjadi kekuatan transformatif dalam masyarakat? Apakah mereka mungkin saling lempar kursi karena bertikai tentang figur pemimpin ideal untuk menakhodai GMKI agar bisa mewujudkan karakter transformatif dari kekristenan bagi Indonesia? Jawaban saya, “Tidak mungkin!” Alasannya, pertanyaan seperti ini hanya muncul dari seorang Kristen yang resah akan signifikansi agamanya bagi dunia, tidak ada motif lain—apalagi kekuasaan.

Persoalan signifikansi kekristenan bagi bangsa dan negara inilah yang melatari Johannes Leimena mendirikan GMKI. Seperti biasa dialami oleh negara yang baru merdeka, situasi dalam negeri masih belum stabil di era Leimena. Ada dua isu yang berkembang ketika itu, yaitu persekusi orang Kristen oleh tentara Jepang dan isu akan kembalinya Belanda menjajah Indonesia (Hitipeuw 1986). Mahasiswa Kristen menangkap kekalutan ini dan mendiskusikannya dengan Leimena. Respons akhirnya setelah diskusi adalah mahasiswa Kristen wajib berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Jadi, mahasiswa Kristen di masa Leimena lebih mementingkan signifikansi daripada birokrasi organisasi.

Untuk mewujudkan signifikansi itulah Organisasi Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI, sekarang) dibentuk. Tujuannya untuk menciptakan intelektual-pejuang dan pejuang-intelektual seperti yang dimodelkan oleh Leimena sendiri. Leimena bukan sekadar mahasiswa kedokteran belaka. Dia juga melibatkan diri dalam isu-isu kebangsaan. Dalam kajian Hitipeuw, dia dan teman-temannya mendirikan organisasi mahasiswa Kristen sebagai arena berdialog. Mereka merefleksikan kondisi bangsa secara kritis untuk kemudian menggagas aksi transformatif. Artinya, kehadiran organisasi mahasiswa Kristen ketika itu sebagai lembaga edukasi praksis (lihat Freire 2005) bagi intelektual kekristenan.

Namun, sejarah memang selalu bergerak lucu. Visi Leimena untuk menjadikan GMKI sebagai lembaga edukasi praksis para intelektual Kristen seperti lenyap ditelan sejarah. Dalam hampir dua dekade terakhir, kita tidak lagi melihat produk-produk intelektual dari GMKI untuk merespons dinamika kebangsaan. Prestasi terbaik mereka, yang mudah diakses oleh publik seperti saya, adalah para pejabat teras organisasi berfoto dengan pejabat rezim kekuasaan. Dengan kata lain, sorry to say, GMKI telah mandul secara intelektual.

Kemandulan intelektual inilah yang memungkinkan kisruh saling lempar kursi bisa terjadi. Salah satu karakteristik seorang pakar atau intelektual adalah kemampuannya untuk tak terbawa emosi, bahkan ketika membahas isu yang paling kontroversial sekalipun (Nichols 2022). Banyak orang bilang, “Ah, lempar-lempar kursi itu biasa. Banyak anggota parlemen di berbagai negara juga melakukannya ketika sedang berdebat.” Ya, bisa jadi itu benar. Namun, mereka bukan intelektual, tetapi politikus. Orientasi pertarungan politikus jelas, yaitu memperebutkan kekuasaan. Jadi, apakah GMKI sekarang ini adalah kerja-kerja intelektual atau ajang latihan untuk jadi politikus? Apakah aksi lempar-lempar kursi itu juga untuk meraih kekuasaan?

Aksi pelemparan kursi pada Kongres XXXIX Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Samarinda menandakan GMKI telah tercerabut dari akar sejarahnya. Mereka sudah tidak lagi menghayati visi awal dari pendirinya, yaitu menjadikan GMKI sebagai wadah edukasi praksis untuk mengejawantahkan signifikansi nilai-nilai kekristenan dalam kehidupan berbangsa. Dalam hal ini, GMKI telah terdistorsi menjadi sekadar sebagai sasana untuk melatih mahasiswa Kristen agar berperilaku menyerupai politikus yang haus kekuasaan.

Quo Vadis, GMKI?

Daftar Acuan

Freire, Paulo. 2005. Education for Critical Consciousness. London: Continuum.

Hitipeuw, Frans. 1986. Dr. Johannes Leimena: Karya Dan Pengabdiannya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Nichols, Tom. 2022. Matinya Kepakaran. Kepustakaan Populer Gramedia.

Scroll to top