Spiritualitas Mendaki Langit

Pernahkah Anda jenuh dengan praktik kehidupan spiritualitas dalam beragama? Khotbah pendeta dari mimbar gereja, misalnya, terasa membosankan ketika membicarakan topik ini. Mereka hanya menyerukan agar kita rajin berdoa, beribadah, dan—kalau mampu—bersedekah. Mereka meyakini cara-cara seperti ini akan mendekatkan kita dengan Tuhan. Bahkan, bukan hanya dekat, kita juga bisa mendengar suara Tuhan asalkan disiplin melakoninya. Terasa mistis dan bombastis, bukan?
Jika Anda sudah merasa jenuh dan meragukan praktik spiritualitas seperti itu, buku ini akan menambah rasa kebosanan itu. Disajikan dalam bentuk bunga rampai, topik utama buku ini memang tentang spiritualitas. Hanya saja, dua puluh penulisnya rasa-rasanya tidak sedang membicarakan spiritualitas, melainkan ritual belaka. Kesan ini muncul karena porsi fokus mereka terhadap spiritualitas tertuju lebih banyak pada perihal bagaimana daripada apa dan mengapa (hlm. 9). Ketimpangan perspektif seperti ini berbahaya karena berpotensi untuk menyamakan spiritualitas dengan ritual.
Oleh karena itulah, buku ini perlu tinjauan kritis. Peninjauan kritis perlu agar menyeimbangkan pemahaman pembaca ketika menggumuli buku ini. Harapannya, penilaian ini akan merangsang diskusi untuk merelevankan praktik spiritualitas keseharian kita.
Spiritualitas: Usaha untuk Menyatu dengan Allah
Topik perbincangan utama buku ini pada dasarnya sudah tergambar dari judulnya, yaitu spiritualitas kekristenan era Bapa-bapa Gereja (patristic), yakni dari awal kekristenan hingga abad ke-7. Para penulis melacak praktik spiritualitas secara berurutan. Sebagai pembuka, jemaat kekristenan pada periode pembangunan Bait Allah kedua (Second Temple Judaism) yang kental dengan tradisi komunitas Qumran (hlm. 34–35) menjadi sorotan pertama. Kemudian, analisis berakhir pada spiritualitas ala Maximus the Confessor di abad ke-7.
Benang merah penghubung tujuh abad praktik spiritualitas itu terletak pada istilah ascend to God. Arti harfiah dari istilah ini adalah naik menuju Allah. Irenaeus, Bapa Gereja abad ke-2, menandaskan orientasi “naik menuju Allah” adalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya dalam cinta kasih dan pengetahuan (hlm. 113). Dalam hal ini, spiritualitas dimetaforakan sebagai gerakan “mendaki” dengan totalitas eksistensi dan kebebasan manusia (hlm. 18) untuk mengenali diri (hlm. 72) dan memahami visi tentang Tuhan. Hingga akhirnya, capaian final dari praktik spiritualitas adalah bersatu dengan Allah (hlm. 123) dan mengimitasi-Nya (hlm. 20).
Gerak spiritualitas memanjat ke atas untuk bersatu dan menyerupai Tuhan menjadi argumen kunci dari buku ini. Konsep dasarnya datang dari filsafat Plotinus tentang the beatific vision atau visi keindahan (hlm. 56–58). Keindahan menurut Plotinus terjadi ketika semua benda atau materi bersatu dengan Si Pemberi Bentuk (hlm. 59). Kesatuan ini terindikasi dari kemampuan benda itu mengekspresikan sifat Si Pemberi Bentuk. Sifat Si Pemberi Bentuk menurut Plotinus tercermin dalam kebajikan (virtues). Oleh karena itulah, ciri utama seseorang yang telah mencapai kesatuan dengan Si Pemberi Bentuk adalah mempraktikkan kebajikan (hlm. 257). Semakin seseorang melakukan kebajikan, semakin mirip dia dengan Tuhan (hlm. 61). Jadi, ujung dari spiritualitas adalah kebajikan, yaitu melakukan perbuatan baik terhadap sesama.
Namun, seperti uraian sebelumnya, seseorang mampu melakukan kebajikan jika ia sudah bersatu dengan Allah. Dalam rangka mengejar kesatuan inilah, seseorang mesti melakukan ritual-ritual tertentu. Dari pembacaan saya, dua puluh tulisan dalam buku ini membagi ritual dalam tiga kategori, yaitu individual, komunal, dan sosial. Berdoa, merenungkan firman Tuhan, mengasingkan diri dari dunia, dan berpuasa masuk dalam kategori ritual individual. Bisa dikatakan, ritual individual mirip dengan menjalankan tradisi biara. Sementara, ritual komunal terjadi dalam komunitas gereja, misalnya, liturgi, ibadah, dan sakramen. Mereka meyakini berbagai ritual tersebut mampu mempersatukan orang-orang dengan Kristus. Terakhir, ritual sosial dilakukan dengan memberikan sedekah. Dari Bapa-bapa Gereja, hanya Basil (hlm. 204) dan Maximus (hlm. 387) yang menaruh perhatian pada aspek sosial dalam rangka merancang formasi spiritualitas.

Problem Spiritualitas Mistik: Mendaki Langit
Kekuatan buku ini terletak pada kedisiplinan para penulis menggunakan sumber. Mereka konsisten merujuk pada data-data primer ketika mengonstruksi pandangan spiritualitas para Bapa Gereja. Editor juga menderetkan semua tulisan secara kronologis sehingga memudahkan kita memandang panorama dinamika spiritualitas di masa itu. Hal ini rasanya wajar saja jika menengok latar belakang para penulis. Mereka adalah para akademisi, peneliti, dan dosen. Mereka bahkan sudah menulis buku tentang topik tulisan mereka di buku ini. Jadi, kualitas data, metode penelitian, dan koherensi argumen buku ini tersaji secara meyakinkan.
Walaupun mutu akademis buku ini mengagumkan, tetapi bangunan argumen mereka kurang lengkap. Di awal sudah dikatakan, para penulis lebih condong menaruh perhatian pada laku spiritualitas (how) daripada alasan (why) di balik praktik tersebut. Memang, buku ini menerangkan alasan kita membutuhkan spiritualitas, yaitu karena dosa memisahkan manusia dengan Tuhan (hlm. 94, 195). Mereka percaya kesatuan manusia dengan Tuhan dapat diusahakan melalui disiplin spiritualitas tertentu. Hanya saja, alasan pemilihan praktik itu luput dari pengamatan para penulis.
Misalnya, aspek mistisisme mendominasi semua gagasan spiritualitas para Bapa Gereja. Memang, beberapa Bapa-bapa Gereja membangun formasi spiritualitasnya di atas doktrin teologi tertentu, seperti, Kristologi, Eklesiologi, Eskatologi, dan sebagainya (hlm. 19, 31, 94). Namun, hampir semua dari mereka meyakini manusia mustahil mengenal esensi Allah—apophatic theology (hlm. 243). Kalaupun Allah sudah menyatakan diri dalam Kristus dan Alkitab, Bapa-bapa Gereja tetap saja mendekati keduanya secara alegoris dan metaforis (hlm. 233). Artinya, Bapa-bapa Gereja memandang Allah dan segala sarana komunikasi-Nya sebagai misteri. Karena keyakinan inilah, praktik spiritualitas mereka bernuansa mistik seperti pertapaan karena mengutamakan keheningan dalam mencapai Allah (hlm. 190).
Pertanyaannya, mengapa paradigma mistisisme ini mendominasi wacana pemikiran mereka? Apakah betul karena pengaruh filsafat Plotinus semata? Apakah suasana politik dan ekonomi ketika itu tidak berpengaruh sama sekali? Apakah mungkin sebuah filsafat menghegemoni tatanan masyarakat tanpa konteks ekonomi-politik tertentu? Pertanyaan-pertanyaan ini luput dari pengamatan penulis. Mereka seolah mengasumsikan bahwa praktik spiritualitas para Bapa Gereja adalah kondisi terberi, alamiah, atau turun langsung dari langit. Konsekuensinya adalah mereka memandang spiritualitas bukan lagi sebuah respons terhadap realitas.
Dampak lainnya, kombinasi dari mistisisme dengan luputnya pengamatan situasi ekonomi-politik menghasilkan spiritualitas apolitis. Selain Basil dan Maximus, hampir semua Bapa Gereja mendeklarasikan “permusuhan” dengan dunia (hlm. 102, 199). Mereka menjauh dari hiruk-pikuk politik dengan memilih tinggal di biara. Mereka mengasingkan diri dari dunia untuk mengejar keheningan karena disiplin tersebut diyakini sebagai cara terampuh untuk bersatu dengan Tuhan. Bukankah praktik seperti ini sama saja mengingkari perkataan Yesus bahwa para pengikut-Nya adalah garam dan terang dunia? Bagaimana mungkin usaha mereka untuk mendekati Tuhan justru membuat mereka membangkang terhadap firman Allah? Dengan kata lain, praktik pertapaan itu berkontradiksi dengan kehendak Tuhan karena Dia menginginkan para murid-Nya berkontribusi konkret dalam dunia (Yoh. 17:14–18).
Lalu, apa jawaban para penulis terhadap kontradiksi praktik spiritualitas itu? Nihil. Mereka bahkan tidak menyinggungnya sedikit pun. Spiritualitas Bapa-bapa Gereja adalah spiritualitas langitan.
Spiritualitas Wong Cilik
Spiritualitas langitan kian terasa kental karena minimnya perhatian para kontributor pada praktik spiritualitas dari kelas marginal. Memang, dua tulisan menceritakan spiritualitas dari kisah dua perempuan, yaitu St. Macrina dan Bunda Maria. Namun pada dasarnya, kedua tulisan itu tidak menonjolkan sisi feminin. Konsep spiritualitasnya lagi-lagi berputar pada anagogi, yaitu manusia bersekutu dengan Allah melalui kontemplasi (hlm. 232). Persoalannya, kelas marginal bukan hanya perempuan. Kelas marginal terbesar justru adalah wong cilik, orang miskin, atau proletar. Kalaupun para teolog raksasa di era Patristik punya formasi spiritualitas tertentu, lantas, apakah wong cilik juga mempraktikkannya? Apakah orang miskin dan kelaparan pada era itu juga sibuk berkontemplasi dalam bilik-bilik biara?
Kekurangan terbesar dalam buku ini adalah para penulis terlalu fokus pada narasi besar ketika membaca sejarah. Para penulis menitikberatkan interesnya pada “kisah-kisah yang terarsip”. Akibatnya, para kontributor artikel mengabaikan cerita-cerita dari kelas yang tak bersuara. Padahal, mereka adalah kelas mayoritas dalam masyarakat. Merekalah aktor utama drama sejarah. Dalam konteks ini, spiritualitas mereka merupakan ekspresi paling jujur di zamannya. Namun, para penulis tampaknya tidak menyadari ini.
Sebagai pembanding, kita tengok disertasi Sindhunata, Ratu Adil (Gramedia Pustaka Utama, 2024). Buku itu membahas spiritualitas orang Jawa pada era penjajahan Belanda. Dengan mengorientasikan harapan mesianik terhadap kedatangan sosok Ratu Adil, Sindhunata mengeksplorasi praktik spiritualitas kelas masyarakat tertindas. Sindhunata memalingkan pandangannya dari narasi besar ke arah narasi orang-orang kecil. Hingga akhirnya, ekspresi spiritualitas Jawa berujung pada perlawanan terhadap eksploitasi penjajah. Mereka menilai Belanda telah melabrak nilai-nilai spiritualitas karena mencederai keadilan. Sindhunata lugas mengatakan, “…perang tersebut (perang Dipanagara melawan Belanda) adalah momen religius,” (hlm. 70). Dalam hal ini, orang Jawa menjadikan aspek spiritualitas sebagai fondasi menggugat realitas.
Lalu, apakah ekspresi spiritualitas Jawa kita temukan pada wong cilik di era Patristik? Entahlah. Pastinya, buku ini tidak menyinggung topik seperti ini sedikit pun.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, buku terbitan Brill ini hanya menawarkan ide-ide konvensional. Para penulisnya hanya mengulang-ulang gagasan spiritualitas mistisisme. Padahal, masyarakat modern telah menolak gagasan seperti ini. Perkembangan mutakhir dari psikologi, sosiologi agama, dan neurosains sudah mempertanyakan praktik spiritualitas seperti itu. Dengan kata lain, buku ini gagal menjawab perkembangan zaman.
Spiritualitas di era Patristik kental bernuansa mistis. Narasi menyatu dengan Allah menjadi agenda utama ketika itu. Para Bapa Gereja memahami kesatuan bersama Allah dengan metafora ascend to God. Konsep ini berakar dari tradisi filsafat Plotinus yang meyakini semua realitas materi harus bergerak menuju penciptanya. Mereka melakoni berbagai ritual demi mencapai tujuan ini.
Namun, buku ini gagal menjawab beberapa pertanyaan penting. Para penyumbang artikel luput mengamati seputar konteks sosial, ekonomi, dan politik yang memicu pemikiran dan tindakan mereka terkait spiritualitas. Absennya paparan mengenai konteks membuat kita sulit melacak alasan di balik lakon spiritualitas para Bapa Gereja. Apalagi, para penulis buku ini hanya memotret narasi besar ketika itu sehingga melewatkan konsep spiritualitas wong cilik. Padahal, justru spiritualitas kaum marginal itu yang menjadi kunci untuk memahami spiritualitas di era kekristenan awal.
Akan tetapi, walau gagal bertarung dengan pemikiran kontemporer, buku ini berkontribusi menyediakan fondasi genealogis perjalanan spiritualitas. Setidaknya, buku ini memberitahu kita betapa besar pengaruh pemikiran Plotinus bagi perkembangan spiritualitas, bahkan teologi Kristen. Kemudian, kita belajar juga dari Basil dan Maximus bahwa tradisi spiritualitas Kristen ternyata punya orientasi pada persoalan sosial sehari-hari. Kita memerlukan pelacakan historis sebuah fenomena agama seperti uraian buku ini dalam usaha merelevansikan praktik religius. Karena tanpa mengakar pada tradisi, posisi konstruksi teologis kita berpotensi kabur. Bagi seseorang yang ingin memulai pencarian terhadap spiritualitas, buku ini, dengan banyak kekurangannya, layak dijadikan sebagai lompatan pertama.