Terdidik

Pengarang: Tara Westover
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan, Tahun Terbit: Pertama, 2021
Tebal Buku: 516 hlm.
ISBN: 978-602-06-5036-4 (PDF)
Bayangkanlah jika Anda diasuh oleh seorang ayah pengidap bipolar dengan gejala utama paranoia sekaligus merasa terpanggil sebagai nabi Tuhan. Kemudian, pemujaan terhadap budaya patriarki berkombinasi dengan gangguan mental itu. Apakah Anda akan tumbuh menjadi anak yang “normal”? Tara Westover bergumul dengan pertanyaan ini dalam memoarnya, Terdidik (2021), terbitan Gramedia Pustaka Utama.
Bipolar, Patriarki, dan Manipulasi
Tara Westover tumbuh dalam keluarga dengan profil ayah seperti gambaran di atas. Paranoia akibat bipolar mengakibatkan ayahnya mencurigai semua lembaga negara kecuali gereja Mormon—agama yang dipeluknya. Misalnya, ayahnya beranggapan bahwa menyekolahkan anak sama saja menyerahkan mereka ke tangan iblis (hlm. 6). Dia juga mencurigai rumah sakit dan semua institusi pemerintah. Semua lembaga itu diyakininya sebagai produk para penyembah setan, yaitu Iluminati, untuk membunuh orang (hlm. 49–50). Karena paranoia inilah, bukan hanya tidak bersekolah, Tara dan saudaranya tidak pernah ke rumah sakit dan tidak memiliki akta kelahiran (hlm. xiv).
Kalaupun harus ada yang dipercayai, ayahnya hanya percaya satu hal, yaitu Hari-hari Kemurkaan Tuhan akan tiba (hlm. 11–12). Ayah Tara memegang teguh keyakinan ini karena dia merasa Tuhan telah berbicara kepadanya. Sekolah dan ornamen-ornamen kehidupan orang biasa menjadi tidak penting karena pada Hari Akhir semua itu akan binasa. Keyakinan ayah Tara akan hari kiamat sudah dekat menjadi orientasi dari segala keputusannya. Setiap keputusannya mutlak karena berdasarkan pewahyuan langsung dari Tuhan.
Situasi keluarga Tara kian pelik ketika budaya patriarki menelan sosok ibu sebagai penyeimbang otoritas. Jangankan di hadapan suaminya, ibunya tak berdaya menghadapi kekerasan fisik yang dilakukan anak laki-lakinya, Shawn, terhadap Tara (hlm. 174). Bahkan, ibunya pun tidak percaya kepada anak perempuannya, Audrey, ketika mengadukan Shawn karena telah memukulnya (hlm. 403). Absennya sosok ibu menjadikan laki-laki sebagai pengendali utama semua narasi dalam keluarga Tara.
Rantai pelecehan, manipulasi, dan kontrol membelenggu keluarga Tara sebagai dampak dari kombinasi dari ayah bipolar, pengakuan akan akses terhadap suara Tuhan, dan budaya patriarki (hlm. 472). Ayah Tara—seorang fundamentalis tulen—konsisten membisikkan pandangan dan kecurigaannya terhadap dunia kepada anak-anaknya yang tidak bersekolah. Setiap bantahan dari anggota keluarga akan berakhir dengan bentakan dan pertengkaran. Dampaknya, Tara kehilangan kemampuan untuk mendefinisikan dirinya sendiri (hlm. 299). Selama bertahun-tahun, dia mengidentifikasi dirinya seperti yang dikatakan ayahnya. Dia tumbuh menjadi anak yang kolot, bodoh, dan terasing dari dirinya sendiri. Ya, terasing dari dirinya sendiri.
Terdidik sebagai Proses Menciptakan Diri
Lantas, bagaimana Tara menjalani kehidupannya dengan latar belakang keluarga seperti ini? Apakah dia terpenjara dalam dunia ciptaan ayahnya yang bipolar? Apakah dia rela menjadi perempuan tertindas dalam lingkungan keluarga pemuja patriarki yang manipulatif dan ketagihan terhadap kontrol?
Jawaban pertanyaan di atas sedemikian kompleks—antara ya dan tidak. Pilihan dilematik membentang di hadapan Tara. Kebencian berkelindan dengan cinta; kemarahan bersitegang dengan kasih sayang. Sisi paradoks dari realitas manusia inilah yang dipotret Tara dalam perjalanan kehidupannya. Memoarnya menunjukkan betapa rumitnya kehidupan manusia.
Di hadapan kerumitan paradoks itu, kita kerap kali mudah terjebak dalam penghakiman. Namun, alih-alih menghakimi, Tara memilih untuk memeluk kenyataan sekaligus menetapkan arah perjalanan hidupnya. Sekalipun keluarga telah melecehkan kepribadiannya, Tara menolak menanam dendam. Gesekan antara dia dengan ayah, ibu, dan beberapa saudaranya justru membawanya pada sebuah kesadaran baru dalam memaknai arti penting dari pendidikan. Jadi, Tara memilih untuk belajar dari masa lalunya daripada sibuk menyalahkannya.
Hanya saja, layaknya memoar, kisah Tara terasa begitu subjektif. Beberapa cacatan kakinya memang menunjukkan keinginannya untuk objektif. Dia berusaha mengonfirmasi beberapa peristiwa tragis masa lalu keluarganya kepada saudara-saudaranya. Hanya saja, konfirmasinya berasal dari saudara-saudara yang “sepihak” dengannya. Akibatnya, gerak narasi Tara menjadi tidak berimbang. Ketimpangan perspektif ini membawa kita pada pertanyaan, “Apakah betul seseorang selalu menjadi korban di sepanjang hidupnya?”
Namun, betapa pun cerita Tara terasa subjektif—maklum, genre bukunya adalah memoar—kisah hidupnya mengajarkan kepada kita tentang keluarga dan pendidikan.
Keluarga tak selalu indah. Keluarga bisa saja memberi pengaruh buruk. Nilai-nilai keluarga kemungkinan bisa menjadi duri yang menghambat pertumbuhan kita menjadi manusia utuh. Keluarga, seperti yang dialami Tara, ternyata mampu memanipulasi kita hingga menghilangkan identitas atau jati diri. Pendeknya, hierarki kuasa dalam keluarga bisa berubah menjadi toksik, bahkan pabrik cuci otak.
Dalam konteks jenis keluarga seperti inilah, pendidikan memainkan perannya. Sedikit gambaran, Tara akhirnya keluar dari keyakinan keluarganya terhadap sekolah. Dia memutuskan untuk bersekolah dan berakhir dengan raihan gelar doktor. Namun, bukan gelar itu yang menjadi sorotan. Tara menunjukkan tujuan pendidikan bukan untuk memperoleh secarik ijazah untuk melamar kerja. Tujuan pendidikan lebih besar dari itu.
Tara memberi kesaksian bahwa pendidikan adalah proses manusia menemukan dirinya. Sekolah membongkar keyakinan-keyakinan awal Tara yang dia dapatkan dari ayahnya. Tidak hanya membongkar, pendidikan jugalah yang membangun ulang kehidupan Tara. Pendidikan melatihnya agar mampu secara mandiri dalam mendefinisikan dirinya sendiri. Jadi, pendidikan bukan sekadar gelar dan tujuan-tujuan ekonomis tertentu, melainkan proses menciptakan diri sendiri (hlm. 456).
Kesimpulan
Setelah Tetralogi Pulau Buru karangan Pramoedya Ananta Toer, buku Terdidik merupakan salah satu buku yang berhasil memaksa saya untuk terus membaca. Tara berhasil menyajikan sebuah cerita yang penuh dengan gejolak emosi. Buku ini kian layak mendapat tempat karena narasinya bergerak dengan anggun dan sederhana.
Akan tetapi, pelajaran utama dari buku ini adalah dia membuka mata kita tentang makna penting pendidikan. Tugas pokok dari pendidikan adalah memanusiakan manusia. Selain tujuan ini, pendidikan sedang berjalan di jalan yang salah!