Mesianisme sebagai Paradigma

Penulis : Giorgio Agamben

Judul   : The Time That Remains: A Commentary on the Letter to the Romans.

Penerbit: Stanford University Press, 2005.

Di awal halaman buku, kita akan mendapatkan informasi bahwa buku ini berkembang dari rangkaian serial seminar. Seminarnya berlangsung sejak Oktober 1998—Oktober 1999 di berbagai tempat (h. ix).

Menurut saya, setidaknya ada dua alasan yang sekaligus menjadi karakteristik buku ini jika dibandingkan dengan buku-buku lain bertema serupa. Pertama, Agamben sedang mengomentari Kitab Roma dengan merujuk pada mesianisme sebagai lensa spesifik. Sependek pengetahuan saya, para penafsir Alkitab jarang sekali memakai pendekatan ini. Berkenaan dengan itu, Agamben memang berpendapat kerap kali tradisi kekristenan dan Yudaisme melalaikan aspek mesianisme dalam memaknai tulisan dan pemikiran Paulus (h. 1).

Selanjutnya, alasan kedua berangkat dari pertanyaan, “Mengapa Agamben memilih Paulus?” Untuk pertanyaan ini, Agamben menyediakan jawaban pada bab terakhir buku, “Threshold or Tornada”. Dia meminjam pemikiran Walter Benjamin (1892—1940), seorang filsuf Jerman, tentang sejarah. Menurut Benjamin, teologi adalah aktor tersembunyi yang menentukan arah sejarah dunia barat (h. 138). Secara spesifik, Agamben merujuk teologi pada pemikiran Paulus. Oleh karena itulah, Agamben, di sepanjang buku, akan menunjukkan pengaruh besar pemikiran Paulus terhadap para pemikir Eropa, seperti, Luther, Hegel, Heidegger, Badiou, Webber, dan Walter Benjamin sendiri. Berdasarkan keyakinan inilah, lewat buku ini, Agamben ingin merestorasi pemikiran Paulus pada konsep fundamental mesianisme (h. 1).

Untuk tujuan ini , Agamben tidak menganalisis Paulus lewat kacamata teologis. Dengan meminjam istilah dari Bakker dan Zubair dalam Metode Penelitian Filsafat (2016), saya menilai Agamben menggunakan metode holistika untuk mengurai pemikirannya. Metode holistika adalah sebuah penelitian yang berusaha untuk memahami objek kajian dalam cakrawala yang luas. Artinya, peneliti tidak melihat objek penelitian secara “atomistis” atau terisolasi dari bidang lainnya. Melampaui itu, metode ini akan berusaha melihat sebanyak mungkin relasi-relasi yang terkait perihal konsep yang sedang diteliti. Dengan begitu, menurut Bakker dan Zubair, metode holistika akan menghasilkan sebuah tinjauan dengan ciri totalitas, organis, dan menyeluruh (lihat h. 46-47).

Metode di atas akan terbukti jika kita melihat keterampilan Agamben dalam mengolah banyak sumber dan metode untuk mendeskripsikan pemikiran Paulus dalam fondasi mesianisme. Dalam membaca Kitab Roma secara “literal”, dia tidak hanya lincah bermain-main dengan etimologi dan semantik. Melebih itu, dia juga mahir dalam berinteraksi dengan berbagai penyelidikan teologi, filologi, linguistik, filsafat, sejarah, politik, dan sebagainya. Agamben akan menggunakan semua pendekatan ini untuk menyelidiki makna dari sepuluh kata pertama yang muncul dalam Kitab Roma, yaitu paulos doulos christou iesou, kletos apostolos aphorismenos eis euaggelion theou (h. 6). Pasalnya, Agamben mengeklaim; pemahaman atas sepuluh kata ini sudah memadai untuk merekapitulasi pemikiran Paulus dalam konteks mesianisme.

Selanjutnya, apa gagasan utama yang ditawarkan Agamben? Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Agamben menawarkan mesianisme sebagai paradigma historis dalam membaca tulisan-tulisan Paulus (h. 3). Alih-alih memakai istilah Kristus, Agamben memang lebih nyaman dengan term Mesias karena alasan filologis yang khusus (h. 16). Menurut Agamben, Paulus tidak terlalu akrab dengan istilah Kristus. Sebagai seorang Yiddish, komunitas diaspora Yahudi yang membaca Septuaginta (h. 4), Paulus lebih mengakrabi istilah Mesias. Walau kerap dipakai secara arbitrer dengan term Kristus, Agamben mengatakan, Paulus lebih sering menggunakan istilah Mesias karena punya signifikansi dengan pendengarnya ketika itu.

Mesianisme, dalam buku ini, harus dipahami dalam konteks waktu. Agamben kerap mengistilahkannya dengan messianic time atau messianic event. Karena berurusan dengan konsep waktu—yang tidak memiliki pengertian definitif, maka konsep mesianisme yang ditawarkan Agamben menjadi sesuatu yang sukar dipahami. Misalnya, dengan meminjam filsafat linguistik dari Gustave Guillauame (h. 65), Agamben memahami waktu dalam ruang tiga dimensi. Dia menyebutnya dengan istilah chronogenetic (h. 66).

Akan tetapi, Agamben tidak membiarkan kita dalam kebingungan. Dia juga menyediakan sebuah definisi yang berangkat dari pemahaman waktu sebagai sesuatu yang linier. Tradisi apokaliptik Yahudi membagi waktu menjadi dua, yaitu ‘olam hazzeh dan ‘olam habbah. Istilah pertama akan mengacu pada waktu mulai dari dunia diciptakan hingga berakhir. Sementara, istilah berikutnya bersifat atemporal atau abadi; yang datang setelah akhir dari dunia. Dengan demikian, messianic time ada di antara kedua waktu ini (h. 62). Jadi, agak masuk akal jika Agamben memberi judul buku ini “the times that remains”, yaitu waktu yang tersisa. Implikasinya, paradigma mesianisme tidak dipahami dalam konteks eskatologis, tetapi dalam konteks “ke-sekarang-an”(h. 63).

Di antara banyak hal yang ditawarkan Agamben, konsep yang paling menarik bagi saya adalah katargeo, yang berarti inoperative atau deactivate. Agamben mengatakan istilah ini merupakan kata kunci dalam memahami konsep mesianisme Paulus (h. 95). Inoperative berarti membuat tidak beroperasi tetapi tidak untuk menghancurkan melainkan hanya menunda atau “seolah-olah” menganggapnya tidak berlaku (h. 97). Untuk memahami pengertian “seolah-olah” (yang juga menjadi istilah kunci), Agamben mengajak kita untuk membaca 1 Kor. 7:29—32. Istilah inoperative akan berkaitan dengan hukum, lembaga-lembaga sosial, struktur, dan status sosial.

Lalu, apa implikasi dari tawaran Agamben?

Dalam konteks berteologi, Agamben mengajak kita untuk memikirkan kembali formula doktrinal, khususnya, yang disarikan dari pemikiran Paulus. Sebagai contoh, dalam paradigma mesianisme versi Agamben, Paulus tidak pernah memproyeksikan ajaran Kristologi-nya pada dimensi future, eskatologis, ataupun surgawi. Posisi ini akan terlihat jelas dalam uraian Agamben perihal status Paulus sebagai hamba (Bab 1) dan rasul (Bab 4).

Tidak hanya itu, dalam etika politik Kristen, term inoperative mempunyai konsekuensi yang cukup menarik. Apakah pemerintah pun termasuk lembaga yang dideaktivasi? Jika iya, maka konsep ini akan mengubah cara kita dalam membaca Roma 13:1 (h. 29—33). Sebab selama ini, kekristenan selalu memandang ayat tersebut sebagai legitimasi ketundukan mutlak terhadap pemerintah. Namun jika tidak, maka apa pesan yang ingin disampaikan Paulus lewat ayat tersebut dalam paradigma mesianisme?

Implikasi dalam studi teologi biblika, Agamben menyediakan kepada kita sebuah konteks dan pemahaman baru dalam menyelidiki Kitab Roma. Fakta-fakta filologis yang dia sediakan, menurut saya, menawarkan kesegaran guna memahami ulang kitab ini, misalnya, dimensi politis dari pistis, kletos, dan remnant.

Akan tetapi, walau Agamben menawarkan keluasan wawasan, namun membaca buku ini bukanlah perkara mudah. Sebab, kita akan berjumpa dengan banyak istilah teknis yang rumit. Sepertinya, Agamben memang mengasumsikan bahwa pembacanya bukanlah orang awam. Jadi selama membaca buku, tidak usah heran kalau dahi kita akan sering mengerut dalam.

Scroll to top