Menelusuri Spiritualitas Tanpa Agama dalam Karya Sam Harris

Spiritualitas dan agama tampaknya tak bisa dipisahkan. Kita biasanya memahami spiritualitas selalu berangkat dari lensa agama. Ibadah, ritual, doa, bahkan praktik mistisisme religius melintas dalam pikiran kita ketika mendengar istilah spiritualitas. Pemahaman kita atas spiritualitas selalu dalam radar agama, mustahil dari bidang keilmuan lain, apalagi sains. Imajinasi kita sulit membayangkan spiritualitas keluar dari wacana agama.
Sam Harris, dalam bukunya, Waking Up, justru melawan kemustahilan itu. Bisa dikatakan, Harris merupakan seorang kritikus agama. Buku-bukunya, seperti, Letter to a Christian Nation (2006) dan The End of Faith (2004) menandaskan sikap skeptisnya pada agama. Bukunya tentang spiritualitas kali ini juga bernuansa serupa. Dia menilai klaim agama terhadap realitas (termasuk spiritualitas) sudah tidak lagi kompatibel (hlm. 19). Skeptisisme Harris terhadap agama mirip dengan semangat Aufklärung pada pertengahan abad ke-17. Pada masa itu, para intelektual mulai meninggalkan agama serta “kembali” pada rasionalisme sebagai alat ukur kebenaran.
Dengan mengedepankan rasionalitas sebagai hal penting, pembahasan Harris tentang spiritualitas menjadi menarik. Bukunya membedah spiritualitas secara “objektif” tanpa meminjam dogma atau ajaran agama. Harris mengolah spiritualitas menjadi sebuah kajian inklusif terhadap berbagai tradisi dan interpretasi. Selain inklusif, keputusan Harris mengadopsi temuan sains pada bukunya memberi corak empirisme terhadap spiritualitas. Karakter rasional, inklusif, dan empiris yang dilekatkan buku ini pada spiritualitas menjadikannya relevan untuk dibicarakan dalam konteks masyarakat modern.
Spiritualitas dan Sains
Buku Waking Up bisa dikatakan sebagai catatan petualangan Sam Harris bergumul dengan praktik spiritualitas. Dia banyak melakukan eksperimen hanya untuk menemukan resep yang tepat tentang praktik spiritualitas. Mulai dari yang paling ekstrem, yaitu mengonsumsi narkoba (hlm. 1–5), pergi berguru kepada para ahli spiritualitas ke Asia, hingga menelaah sains, khususnya tentang otak dan kesadaran. Buku ini merefleksikan semua pengalaman itu. Harris kemudian merumuskan pengalaman itu menjadi formasi spiritualitas yang relevan bagi masyarakat modern tanpa harus mengekor pada doktrin agama tertentu.
Tujuan buku ini terbilang sederhana, yakni pembaca menemukan kebahagiaan (hlm. 4) lewat kontemplasi untuk menemukan dirinya sendiri (hlm. 32). Buku ini mengatakan bahwa kebahagiaan seseorang terdapat dalam dirinya sendiri, bukan dari lingkungan atau keadaan luar (hlm. 44–45). Untuk menemukan diri sendiri itulah, seseorang bermeditasi. Harris memilih meditasi karena berangkat dari analisisnya dari sains tentang otak dan kesadaran. Namun, bukan hanya dari sains, Harris juga melihat signifikansi meditasi dari berbagai kebijaksanaan klasik dari para pelaku spiritualitas berpengalaman. Jadi, Harris memadukan petualangan spiritualnya dengan temuan sains dan kebijaksanaan klasik (hlm. 8) untuk meyakinkan pembaca bahwa meditasi adalah cara terbaik untuk menemukan kebahagiaan.
Kebahagiaan sebagai Titik Tolak Spiritualitas
Namun, apakah kebahagiaan itu?
Harris membedakan antara kebahagiaan (happiness) dengan kesenangan (pleasure). Walaupun kekayaan dan keamanan dapat memberikan kesenangan, tetapi keduanya tidak menggaransi kebahagiaan (hlm. 41). Kebahagiaan tidak bergantung pada perubahan kondisi (hlm. 44–45). Dengan kata lain, kebahagiaan berciri independen, mandiri, atau otonom.
Jika ciri kebahagiaan adalah otonom, lantas dari mana sumber kebahagiaan itu? “Kebahagiaan merupakan sebuah peristiwa mental,” kata Harris (hlm. 204). Kebahagiaan bergantung pada kemampuan seseorang mengendalikan pikirannya (mind). Harris merujuk pada sebuah studi ilmiah untuk membuktikan klaimnya ini. Studi tersebut mengatakan seseorang akan kurang bahagia ketika pikiran mereka mengembara walaupun isi pikiran itu menyenangkan (hlm. 119). Artinya, agar seseorang bahagia, ia mesti terampil menertibkan pikirannya.
Ketika kebahagiaan dikaitkan dengan pikiran, Harris akhirnya memasuki sebuah topik tersulit ketika membicarakan manusia, yaitu kesadaran. Kesadaran adalah basis manusia untuk memeriksa hidupnya (hlm. 200). Tanpa kesadaran, kita akan kehilangan predikat sebagai manusia.
Namun, bagaimana cara kerja kesadaran itu? Harris melalang buana dari sains tentang otak, filsafat (Timur dan Barat), psikologi bahkan teologi untuk mengurai anatomi kesadaran. Pendeknya, kesadaran berkaitan langsung dengan keberadaan tubuh kita di dunia (hlm. 103). Kesadaran merupakan pengalaman “saya” terhadap setiap momen (hlm. 104, 204). Jadi, kesadaran merupakan korelasi antara pikiran yang berusaha memahami realitas konkret “saya”. Karena memasukkan term “saya” dalam rumusannya, nuansa kesadaran adalah subjektif (hlm. 53) sekaligus eksistensial.
Dalam definisinya tentang kesadaran inilah, kita bisa memahami alasan Harris mengaitkan kebahagiaan dengan pikiran. Kesadaran bermula dari penataan pikiran dalam menginterpretasikan realitas. Kemudian, pikiran yang tertata akan menciptakan kebahagiaan. Inilah inti dari kehidupan spiritual menurut Harris, yaitu menginvestigasi natur dari kesadaran (hlm. 51). Kesadaran, pikiran, dan kebahagiaan menjadi tiga elemen pembangun spiritualitas. Untuk mengharmonisasikan ketiga elemen inilah meditasi diperlukan (hlm. 44, 95, 101, 140).
Pada dasarnya, konsep-konsep dasar dari Harris dalam membangun argumennya bukanlah hal yang baru. Kebahagiaan datang dari dalam diri seseorang, misalnya, sudah lazim diajarkan dalam kekristenan atau agama lain. Definisinya tentang kesadaran (tentang “saya”) sejatinya datang dari Martin Buber, filsuf eksistensial asal Jerman. Uraiannya tentang otak dan kesadaran dari kajian saintifik terlihat tidak signifikan. Karena pada akhirnya, Harris sendiri mengakui kemutakhiran sains tidak akan memberi penjelasan rinci kepada kita tentang arti kesadaran (hlm. 58). Artinya, ide-ide dasar yang digunakan Harris dalam argumennya tidak baru dan kurang berarti.
Meditasi dan Menemukan Diri Sendiri
Meski argumennya tidak sepenuhnya baru, ajakannya untuk menyelaraskan pikiran dan kesadaran melalui meditasi demi mencapai kebahagiaan patut dihargai. Sekarang ini, kebisingan memenuhi dunia kita. Notifikasi dari media sosial, ribuan video di YouTube, bahkan hingga keributan politik sangat mengganggu kehidupan kita. Semua menyedot perhatian hingga sering kali kita lupa memerhatikan diri sendiri. Gadget yang seharusnya berfungsi untuk memudahkan kehidupan kita, ironisnya justru berubah menjadi beban dan sarang penyakit mental. Jika merujuk pada nasihat Harris, meditasi bisa berguna dalam konteks seperti ini. Meditasi akan menenangkan pikiran kita untuk mendatangkan kebahagiaan.

Harris meyakini meditasi akan membawa kita pada pengenalan terhadap diri sendiri. Terlepas dari pandangan pribadi kita terhadap meditasi, seruan untuk kembali kepada diri sendiri menjadi signifikan dalam situasi kehidupan kita saat ini. Misalnya, sisi negatif dari media sosial adalah ia memaksa kita untuk membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Banyak cerita yang mengatakan seseorang lupa menghargai dirinya sendiri karena sibuk melihat orang lain dari media sosial. Dalam konteks memperbandingkan inilah, kehidupan menjadi sebuah arena kompetisi. Sartre, filsuf eksistensial Prancis, menyimpulkan situasi ini dengan tepat, yaitu manusia menjadi neraka bagi sesamanya. Agar tidak terjebak dalam situasi seperti inilah, kembali pada diri sendiri mungkin bisa menjadi satu alternatif bagi kita agar tetap bahagia.
Kerancuan Konsep
Akan tetapi, semua hal positif tersebut tidak membuat buku ini sempurna. Setidaknya, asumsi Harris dalam merumuskan kebahagiaan dan pandangannya tentang spiritualitas bermasalah. Persoalan ini menjadi serius karena dua konsep ini adalah inti sari dari argumen Harris dalam buku ini.
Pertama, apakah betul kebahagiaan adalah peristiwa mental? Lebih jauh lagi, apakah betul kebahagiaan terletak pada penataan pikiran atau kesadaran?
Jika ditelaah lebih mendalam, Harris seolah ingin mengatakan meditasi bisa membuat kesadaran terpisah dari keadaan. Misalkan, ban motor kita bocor di tengah jalan padahal kita sedang terburu-buru mengejar pesawat. Keadaan ini tentu tidak membahagiakan, bukan? Lalu, karena kebahagiaan ada pada pikiran, apakah meditasi bisa mengubah keadaan ini menjadi membahagiakan? Tentu saja bisa! Caranya, pikiran memersepsikan keadaan itu dengan makna lain yang membahagiakan kita. Namun, keadaan sama sekali tidak berubah, bukan? Ban motor kita tetap bocor dan kita akan ketinggalan pesawat.
Artinya, konsepnya tentang kebahagiaan, kesadaran, pikiran, meditasi, dan spiritualitas justru membuat pemikiran Harris sama seperti agama yang adalah candu (Marx & Engels, 1975, hlm. 175–176). Agama, seperti kata Marx, membuai pikiran pemeluknya untuk melupakan penderitaan di dunia. Agama berperan untuk memanipulasi kesadaran massa terhadap eksploitasi dan alienasi yang sedang dialami masyarakat. Dalam konteks buku Harris, meditasi menjadi instrumen untuk mengalihkan kesadaran manusia dari keadaannya. Bukankah ini menjadi sebuah ironi? Harris yang rajin mengkritik agama justru meradikalkan peran agama sebagai manipulator kesadaran massa dari kenyataan.
Kedua, pandangan spiritualitas Harris juga problematik. Seperti sudah dikatakan sebelumnya, inti spiritualitas versi Harris adalah kesadaran. Praktik spiritualitas, seperti meditasi, adalah usaha untuk menemukan kesadaran itu (hlm. 205). Harris bahkan sangat meyakini bahwa kesadaran adalah pasti, bukan ilusi (hlm. 54). Kesadaran muncul dari interaksi atas pengalaman biasa dalam keseharian (hlm. 62) dan reaksi kimia otak (hlm. 58). Harris memang mengakui di beberapa halaman bukunya bahwa perkembangan neurosains belum mampu menjelaskan kesadaran dengan tepat. Pastinya, manusia mampu memahami segala realitasnya karena kesadaranlah yang menafsirkannya (hlm. 83)
Akan tetapi, formulanya tentang kesadaran, seperti yang digambarkan di atas, sebagai fondasi dari spiritualitas masih sangat kabur. Beberapa pertanyaan serius akhirnya bermunculan. Pertanyaan awal, apakah spiritualitas dan kesadaran berperan sebagai penafsir realitas belaka agar kita bahagia? Kalau iya, lantas, bagaimana kesadaran memahami realitas konkret itu? Otak mengasumsikan apa dalam memaknai realitas tersebut? Karena tanpa asumsi, kesadaran akan kandas melahirkan makna, bukan? Karena Harris belum membakukan pengertian definit tentang kesadaran, lalu atas dasar apa spiritualitas itu dikembangkan? Asumsi-asumsi Harris tentang kesadaran masih problematik sehingga menimbulkan kerancuan dalam memahami spiritualitas.
Absennya Telos
Penyebab kerancuan pandangan Harris tentang spiritualitas karena dia menolak pertimbangan pandangan agama dan hanya “mengadu” pada sains. Agama dan sains memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Agama mampu “menembus” masa depan dengan gagasan-gagasan transendentalnya, sedangkan sains terperangkap dalam dunia empiris semata. Sains hanya bergumul dengan pertanyaan bagaimana manusia hidup, tetapi bingung menjawab mengapa manusia hidup. Padahal, dua pertanyaan ini penting dijawab sekaligus agar kita mampu memaknai kehidupan. Oleh karena itulah, agama dan sains seharusnya bersinergi, bukan diceraikan.

Salah satu gagasan penting dari agama adalah perihal tujuan (telos) manusia. Istilah ini dipopulerkan oleh Aristoteles. Telos adalah sasaran akhir atau tujuan ultima dari segala sesuatu—termasuk manusia. Jika ingin memahami sesuatu, Aristoteles meyakini kita harus berangkat dari tujuannya (Clayton, t.t.). Hanya dengan mengadopsi konsep telos-lah, penjelasan epistemologi dan metafisika tentang realitas dapat dimengerti (Falcon, 2023).
Jika kita kembali pada fondasi spiritualitas Harris yaitu kebahagiaan, lantas kita bisa mempertanyakan fondasi dari kebahagiaan itu. Pendapat Aristoteles sederhana. Masih dari tulisan Clayton, seseorang akan bahagia jika menjalankan telos-nya. Namun, kita mampu melaksanakan telos jika lingkungan sosial memadai. Andaikan saja seekor kuda punya telos untuk berlari kencang. Telos ini akan gagal terpenuhi jika lingkungan sosialnya tidak menyediakan air dan makanan karena kuda akan mati kelaparan dan kehausan. Oleh karena itulah, berbeda dengan Harris, Aristoteles memandang kebahagiaan berkorelasi dengan politik. Pasalnya, Aristoteles memandang peran politik adalah untuk menyediakan lingkungan yang kondusif agar manusia bisa mencapai kapasitasnya secara utuh.
Sebagai pembanding, kita bisa melirik buku Patristic Spirituality (2020) yang membicarakan spiritualitas para Bapa Gereja. Buku itu mengatakan para Bapa Gereja membangun formasi spiritualitasnya di atas dasar telos (Springer & Clarke, 2022, hlm. 57, 118). Bahkan, jika dikaitkan dengan penelitian terbaru, justru peran utama dari kesadaran adalah untuk memahami orientasi dari gerak kehidupan ini (Farman, 2019, hlm. 64). Artinya, spiritualitas itu dibangun di atas sebuah pengandaian tentang tujuan ultima manusia. Karena melupakan poin inilah, tawaran Harris tentang spiritualitas tak ubahnya sebagai terapi psikologis belaka. Dia hanya mendorong meditasi yang tujuan aslinya hanyalah memanipulasi kesadaran manusia dari kenyataan.
Kesimpulan
“Bukunya hebat pada judulnya saja,” inilah kesan yang muncul setelah saya menuntaskan buku ini. Pasalnya, buku ini tidak menawarkan sebuah spiritualitas. Keyakinannya untuk menepikan agama justru menjadi bumerang bagi Harris. Alih-alih ingin menciptakan sebuah kesadaran yang orisinal, Harris malah mengulang kesalahan agama yang menjual surga demi menutupi penderitaan manusia di dunia. Lagian, usaha Harris meminjam temuan sains juga tidak berperan signifikan dalam bangunan argumennya. Seolah, temuan sains itu sekadar tempelan untuk menebalkan label Harris sebagai kritikus agama.
Pendeknya, tawaran argumen dan konsep Harris tentang spiritualitas masih sangat kabur. Apalagi konsekuensi praktis yang ditawarkannya terkesan individualistis. Dia hanya mendorong meditasi untuk menghadapi kenyataan tanpa berniat mengubahnya. Oleh karena itulah, saya pribadi tidak merekomendasikan buku ini dibaca oleh mereka yang ingin mencari bentuk spiritualitas secara konkret.
Namun, walau demikian, buku ini menawarkan sebuah proposal yang menantang. Dia ingin keluar dari agama dan merangkul sains dalam merancang spiritualitas. Setidaknya, buku ini bisa dipertimbangkan bagi mereka yang ingin merekonstruksi formasi spiritualitas dalam konteks modernitas seperti sekarang ini. Artinya, buku ini bukan untuk konsumsi awam.
Daftar Acuan
Clayton, E. (t.t.). Aristotle: Politics. Internet Encyclopedia of Philosophy. Diambil 5 September 2024, dari https://iep.utm.edu/aristotle-politics/
Falcon, A. (2023). Aristotle on Causality. Dalam E. N. Zalta & U. Nodelman (Ed.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Spring 2023). Metaphysics Research Lab, Stanford University. https://plato.stanford.edu/archives/spr2023/entries/aristotle-causality/
Farman, A. (2019). Mind out of Place: Transhuman Spirituality. Journal of the American Academy of Religion, 87(1), 57–80. https://doi.org/10.1093/jaarel/lfy039
Marx, K., & Engels, F. (1975). Collected Works 3. International Publishers.
Springer, D. W., & Clarke, K. M. (Ed.). (2022). Patristic Spirituality: Classical Perspectives on Ascent in the Journey to God. Brill.