Apakah Normal Menertawakan Kesusahan Orang Lain?
“Mau ketawa, tapi takut dosa.”
Kita pasti sering membaca kalimat di atas ditempelkan pada video pendek di media sosial. Biasanya, video bercerita tentang orang yang ketiban sial, mungkin karena terpeleset atau tidak sengaja menumpahkan segelas minuman dingin ke atas laptopnya. Video seperti itu kerap mengundang kita untuk tertawa. Namun, sebagian diri kita melarang untuk melepaskan tawa itu. Alasannya karena norma sosial memantangkan kita untuk menertawakan kesialan orang lain. Jadinya, kita mau ketawa, tapi takut dosa.

Senang melihat orang lain susah bisa jadi adalah budaya universal manusia. Bukan hanya di Indonesia, masyarakat “berkebudayaan tinggi” di negara-negara maju juga senang menari di atas penderitaan orang lain. Bahkan, mereka menciptakan satu kosakata khusus untuk menggambarkan kesenangan ini. Istilahnya beraneka ragam: skadefryd (Denmark), leedvermaak (Belanda), simcha la-ed (Ibrani), xingzai-le-huo (Mandarin), zlitradost (Kroasia), dsb. Istilah paling populer datang dari Jerman, yakni kampung halaman Hegel, Kant, Marx, dan para filsuf besar pembentuk peradaban dunia lainnya. Mereka menyebutnya schadenfreude.
Schadenfreude adalah cara paling primitif dari manusia untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu mengandalkan kegagalan dan terhinanya orang lain (hlm. 3). Tiffany Watt Smith, penulis buku ini, membawa kita menyelami dunia filsafat, psikologi, antropologi, bahkan politik demi memahami “keganjilan” ini. Artinya, Smith tidak sedang membicarakan benar atau salah dari schadenfreude. Dia hanya ingin menunjukkan sisi terang dan sisi gelapnya agar kita sadar bahwa kesenangan ketika melihat orang lain susah adalah bagian dari sejarah peradaban manusia (hlm. 21). Dengan gaya tutur sederhana, dia mengajak kita untuk memahami, bukan menghakimi.
Dari pengertiannya, kita sudah bisa merasakan betapa dilematiknya schadenfreude. Berbahagia di atas penderitaan orang lain sedang menunjukkan betapa rendahnya kualitas kita terhadap kemanusiaan. Jika schadenfreude bertujuan untuk mencari kebahagiaan, bukankah cara seperti itu terkesan murahan (hlm. 99)?

Pengarang: Tiffany Watt Smith
Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cetakan, Tahun Terbit: Pertama, 2022
ISBN: 978-602-06-5691 -5 (PDF)
Akan tetapi, Smith menunjukkan schadenfreude tidak murahan. Ia bermanfaat secara individual dan kolektif (hlm. 167). Gembira melihat penderitaan orang lain mendatangkan perasaan enak karena menandakan semua orang pernah gagal. Dengan kata lain, schadenfreude memberi penghiburan bahwa kesialan bukan hanya menimpa kita sendiri, tetapi orang lain juga. Secara kolektif, schadenfreude juga menumbuhkan rasa keadilan. Ketika seorang pencopet yang lari dari kejaran polisi terjatuh dengan kepala membentur tembok, kita merasa lega karena keadilan telah ditegakkan dengan sendirinya. Bahkan, schadenfreude bisa menyatukan masyarakat dalam politik. Ketika tokoh politik yang kita benci akhirnya masuk penjara karena korupsi, hal ini mendatangkan rasa persatuan komunal bahwa selama ini kita benar. Secara bombastis, Smith meyakini semua manfaat dari schadenfreude ini mampu—setidaknya sebagai pemicu—untuk mengubah dunia (hlm. 143).
Paradoks dari schadenfreude ini akhirnya membuat kita merasa canggung. Ia memang mempunyai kekurangan, tetapi anehnya, kita membutuhkannya (hlm. 172).
Kita bisa memahami schadenfreude lewat buku ini karena Tiffany Watt Smith membicarakannya secara jujur. Kita bisa menganggap bahwa schadenfreude adalah bentuk kegagalan moral (hlm. 149). Namun, Smith menunjukkan bahwa perasaan ini bukan sekadar persoalan batasan moral, melainkan karena kita adalah manusia—dengan segala paradoksnya. Pandangan berimbang ini muncul karena Smith berpikiran terbuka dalam menganalisis “kecanggungan” ini.
Kejujurannya, keterbukaan pikirannya, dan keseimbangan pandangannya memuncak pada satu kesimpulan menarik: tertawa di atas penderitaan orang lain tak selamanya salah. Namun, tidak semua penderitaan orang lain sah untuk ditertawakan. Jika penderitaan orang lain mengakibatkan dia cacat atau terbunuh, menertawakannya adalah indikator penyakit jiwa (hlm. 36–38). Hanya orang gila yang bahagia atas musibah seperti itu. Artinya, terkekeh di atas derita orang lain masihlah wajar asalkan kesialan mereka bukan sebuah bencana kemanusiaan.
Akan tetapi, pembatasan itulah yang menjadi masalah. Sejauh apa kita membatasi kewajaran dari sebuah bencana agar bisa ditertawakan? Smith tidak membahas ini di bagian terakhir bukunya, Schadenfreude: Aturan Main (hlm. 165–172). Pada bagian ini, dia seolah hanya ingin mengatakan, “Terima saja schadenfreude apa adanya.” Ketika batasan ini berada di daerah abu-abu, lantas, bagaimana mengukur empati kita sebagai manusia atas derita sesama?
Pada akhirnya, Smith mengakui schadenfreude adalah sesuatu yang alamiah. Tampaknya, evolusi sudah menanamkan itu dalam diri kita sejak awal. Dengan begitu, kita sebenarnya tak perlu merasa bersalah ketika menertawakan penderitaan orang lain. Kesannya terdengar jahat, tetapi itulah kenyataannya. Manusia memang terminal dari segala paradoks.
Karena karakter paradoks itulah, buku ini perlu kita baca. Ia mengajak kita untuk merenung tentang penderitaan sekaligus kebahagiaan. Kombinasi dari keduanyalah yang membentuk schadenfreude. Buku ini akan mengajak kita untuk memahaminya secara mendalam. Harapannya, perenungan dari buku ini membuat kita menjadi bijak dalam menentukan batasan penderitaan orang lain yang bisa ditertawakan.