Menulis untuk Bersuara

Membaca jurnal terbitan kampus menjadi kegiatan paling membosankan ketika saya masih kuliah di Bandung. Padahal, judul-judul artikelnya mendebarkan karena menarik dan provokatif. Namun, gairah seketika meredup kala mata mulai menjelajahi kalimat per kalimat. Puluhan halaman tulisan hanya berisi data-data kering—nyaris tanpa cerita. Tulisannya berbunyi, tetapi tak bersuara.

Tulisan adalah Suara

Suara (voice) tentu saja berbeda dengan bunyi (sound). Suara adalah bunyi yang keluar dari mulut manusia. Seorang individu berdiri di balik suara untuk mewakili pikiran dan sikapnya. Suara mengirimkan pendapat, bahkan keberpihakan terhadap sebuah isu. Dengan kata lain, suara adalah ungkapan individualitas seseorang.

Demikianlah, tulisan adalah suara sebagai ekspresi individualitas, kata William Zinsser dalam bukunya, On Writing Well (hlm. 279). Keyakinan ini membawanya untuk merumuskan prinsip dasar dari menulis, yaitu jadilah diri Anda sendiri dengan berani menyatakan pikiran pribadi (hlm. 34, 42, 43). “Jangan mengubah suara Anda agar cocok dengan subjek (pembaca) Anda,” tegas Zinsser lagi (hlm. 275). Berbeda dengan kelas-kelas pelatihan menulis yang menganggap pembaca sebagai raja, Zinsser malah menyarankan agar penulis jangan menjilat pembaca (hlm. 276). Karena tulisan adalah suara jati diri, itu artinya menulis adalah tindakan ego (hlm. 39).

Namun, tindakan ego bukan berarti menjadikan menulis sebagai kegiatan sembarangan—sesuka hati. Menulis mesti dilakukan dengan berpikir jernih—inilah tesis utama Zinsser dalam bukunya. “Seseorang yang dapat berpikir secara jernih mampu pula menulis dengan jelas, tentang masalah apa pun,” kata Zinsser (hlm. 9, 21, 182). Berpikir jernih berarti mengeliminasi bias terhadap fakta. Oleh karena itulah, awal dari menulis adalah mengumpulkan bahan (hlm. 79), membuang fakta-fakta umum/klise (hlm. 153) dan menyaringnya (hlm. 306). Artinya, benih tulisan adalah kejernihan berpikir. Tanpanya, kita hanya akan menghasilkan tulisan yang buruk dan bertele-tele.

Hanya saja, apa yang kita pikirkan untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik? Berpikirlah tentang kehidupan. “Tulisan yang baik memiliki nilai suatu kehidupan,” kata Zinsser (hlm. 18). Tulisan membicarakan emosi manusia dalam petualangan hidupnya. Tulisan yang baik menceritakan pergumulan batin manusia yang bersentuhan dengan realitas kesehariannya. Artinya, ada “orang” dalam sebuah tulisan (hlm. 102) dan pembaca ingin mendengar cerita itu (hlm. 296). Pada intinya, menulis adalah bercerita tentang pengalaman kita sebagai manusia.

Akan tetapi, walau menulis adalah bercerita, kita jangan tergesa-gesa menyangka kalau menulis adalah seni. Kata “bercerita” mungkin langsung menyeret pikiran kita pada karya-karya fiksi, seperti, novel dan cerpen. Tulisan non-fiksi, bahkan jurnal ilmiah sekalipun, seharusnya menguraikan kisah tentang dinamika perjuangan keseharian seseorang sebagai manusia. Para penulis akademis kerap melupakan prinsip ini sehingga tulisan mereka terasa kering dan membosankan.

Menulis adalah Keterampilan

Karena menulis bukan seni, artinya, menulis merupakan sesuatu yang bisa dipelajari. Setiap orang bisa menulis asal mau belajar dengan motivasi tinggi (hlm. 130). Bakat bukan penentu agar seseorang menjadi penulis yang baik. Asalkan bisa berpikir jernih, kita bisa menulis apa saja asal tekun mengasah kemampuan. Dengan kata lain, menulis adalah keterampilan (hlm. 11, 16). Rutinitas latihanlah yang akan melahirkan tulisan bermutu, bukan inspirasi ala seniman.

Untuk memandu latihan itulah, buku On Writing Well akan berperan sebagai pelatih menulis kita. Sebagian besar isinya berisi tuntunan teknis untuk menghasilkan tulisan yang enak dibaca. Zinsser adalah pelatih hebat karena ia fokus pada detail. Dia menaruh perhatian besar pada kata sebagai perkakas utama para penulis (hlm. 54). Nasihat utamanya, “Anda tidak akan pernah bisa tampil sebagai penulis yang andal jika tidak mengembangkan sikap hormat pada kata-kata,” (hlm. 48).

Karena menghormati kata, Zinsser cerewet soal ini. “Pilihlah kata yang pendek! Perhatikan ritmenya! Gunakan kata kerja aktif! Buanglah adverbia! Hapus adjektiva! Jangan pernah mau membawa tas penuh kata benda abstrak! Tinggalkan kata-kata mendayu ala penyair! Setelah kata kerja, fokuslah pada kata benda! Beri perhatian khusus pada keterangan waktu!” Seruan-seruan seperti ini berserakan pada hampir setiap halaman bukunya. “Ingat,” kata Zinsser, “kata adalah satu-satunya alat yang harus Anda kuasai,” (hlm. 54).

Namun, menguasai kata-kata adalah pekerjaan sulit. Kerap kali, kita salah menggunakan kata untuk menyatakan maksud tertentu. Misalnya, kita sering menyebutkan “dinonaktifkan” untuk maksud “dipecat”. Arti dari kedua kata mungkin sama, tetapi rasanya berbeda. Contoh sederhana ini menunjukkan kata-kata tidak melulu mengenai definisi, tetapi juga sensasi. Karakter seperti inilah yang membuat kata-kata sulit dijinakkan.

Karena kata-kata terlahir liar, menulis ulang menjadi urgen dalam kegiatan tulis-menulis. Menulis ulang adalah memeriksa kembali tulisan kita (self-editing). Kita memeriksa kembali barisan kata dalam tulisan untuk mendeteksi kerancuan berpikir. Menulis ulang memaksa kita untuk mereparasi susunan kalimat demi mengeliminasi bias pikiran. Menulis ulang menjadi kegiatan maha penting dalam menulis karena mengintrospeksi argumen kita sebelum disodorkan kepada pembaca. Oleh karena itulah, Zinsser berkali-kali mengatakan bahwa menulis ulang adalah inti atau esensi dari menulis (hlm. 16, 25, 112).

Tugas lain dari menulis ulang adalah untuk menyederhanakan tulisan. Salah satu kata kunci dari gagasan utama Zinsser adalah kesederhanaan. “Sederhanakan, sekali lagi, sederhanakan,” serunya (hlm. 31). Berpikir sederhana adalah fondasi proses penulisan (hlm. 73). Setelah itu, proses penyampaian isi pikiran dalam tulisan pun harus sederhana juga. Misanya, buatlah kalimat yang pendek. “Jika Anda ingin menulis dengan kalimat panjang, jadilah jenius,” saran Zinsser. Bukan hanya kalimat, paragraf pun sebaiknya pendek juga guna memberi kesegaran (hlm. 106). Dengan menulis ulang, kita merampingkan tulisan agar terlihat lebih percaya diri (hlm. 94).

Tidak Ada Hukum Menulis

Akan tetapi, walau Zinsser pelatih yang hebat, dia tidak selalu sempurna. Saran-sarannya untuk menghasilkan tulisan bagus kadang terasa tidak relevan dalam konteks Indonesia. Contohnya, dia menyarankan agar penulis membuang kata-kata yang membingungkan. Kategori kata yang membingungkan adalah kata-kata yang terdiri dari tiga, empat atau lima suku kata (hlm. 284). Dengan kata lain, Zinsser menyarankan agar kita memilih kata dengan dua suku kata. Dalam konteks bahasa Inggris, saran ini mungkin relevan karena bahasa Inggris banyak mengandung kosakata bersuku kata pendek. Namun, hal serupa tidak berlaku untuk bahasa Indonesia.

Sarannya yang lain, yaitu meminimalkan penggunaan adverbia, pun kurang pas untuk penulis Indonesia, misalnya, penggunaan kata “tidak”. Salah satu keunggulan bahasa Inggris adalah kemampuannya untuk meringkas kata “tidak” hanya dengan menambahkan awalan “un” atau “i” pada satu kata. Contoh, bahasa Inggris “tidak sengaja” adalah unintentionally; bahasa Inggris “tidak relevan” adalah “irrelevant”. Namun, bahasa Indonesia tidak memiliki struktur kata seperti ini. Akibatnya, penggunaan adverbia (kata “tidak”) dalam penulisan berbahasa Indonesia menjadi sulit dihindari.

Untungnya, Zinsser mengantisipasi berbagai kelemahan ini dengan mengatakan bahwa hukum tulis-menulis selalu relatif (hlm. 59). Pada akhirnya, semua bergantung kepada penulis. Selama suara yang disampaikan secara jelas dan enak didengar oleh telinga batin pembaca, “Everything is fine.” Walau tidak sepasti hukum alam, berbagai tip menulis dari Zinsser setidaknya bisa dijadikan acuan pertama.

Walau begitu, ada satu kelemahan lain dari buku ini dan, bagi saya pribadi, kelemahan ini fatal. Zinsser memberi panduan untuk menulis ragam karya nonfiksi, seperti wawancara, artikel perjalanan, memoar, sains, olahraga, dan humor. Namun, entah lupa atau kurang tertarik, dia tidak menyediakan tip untuk menulis tentang politik. Bagi saya pribadi, hal ini mengecewakan. Bagaimana mungkin dia melupakan sebuah bidang kehidupan yang paling memengaruhi banyak orang, yaitu politik? “Kelupaan” ini adalah aib terbesar dari buku hebat tentang cara menulis nonfiksi ini.

Kesimpulan

Ya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sependek pengalaman saya membaca buku tentang menulis, buku On Writing Well adalah yang terbaik. Buku ini mengingatkan kita bahwa menulis adalah tentang berpikir jernih dan sederhana serta menyampaikannya dengan sederhana pula. Tulisan menyampaikan pesan sederhana kepada pembaca tentang kehidupan dan dinamikanya. Fungsi tulisan bukan sekadar membeberkan data dan fakta. Tulisan ada untuk menyampaikan suara. Buku ini mengingatkan kita, di balik sebuah tulisan, berdiri seorang manusia.

Scroll to top