Perang dan Kebosanan
Penulis yang menulis novel membosankan adalah kriminal. Kali ini, si terdakwa adalah Ernest Hemingway. Ya, dia adalah peraih penghargaan Nobel Sastra pada 1954. Dia disebut-sebut sebagai salah satu sastrawan termasyhur karena menghasilkan novel dan cerpen terkenal. Bahkan, novel Kepada Siapa Genta Berdentangan—terjemahan dari For Whom the Bell Tolls (1940)—merupakan salah satu novel yang mengangkat namanya. Namun sialnya, entah salah di mana, saya gagal menemukan alasan mengapa ini mendapatkan apresiasi dari komunitas penikmat sastra. Selain minim pembelajaran reflektif, pertanyaan krusial saya adalah mengapa Hemingway harus menghambur-hamburkan 600 halaman untuk menceritakan sebuah kisah sederhana, yaitu misi beberapa hari untuk membom jembatan.

Pengarang: Ernest Hemingway
Penerbit: Diva Press
Cetakan, Tahun Terbit: Pertama, 2017
Tebal Buku: 600 hlm
ISBN: 978-602-391-488-7
Sinopsis
Kepada Siapa Genta Berdentangan mengambil latar belakang perang di Spanyol pada 1930-an. Sekembalinya dari pembuangan politik, Jendral Fransisco Franco mengudeta pemerintahan Republik Spanyol dengan bantuan persenjataan dari sekutu Fasis, yakni Jerman dan Italia. Perang sipil pun pecah. Masyarakat Spanyol terbelah menjadi dua kelompok, yaitu pro-fasis dan anti-fasis. Perang berlangsung kurang lebih selama tiga tahun, yakni antara 1936–1939.
Dalam konteks perang sipil di Spanyol inilah, Robert Jordan muncul sebagai tokoh utama. Dia berwarganegara Amerika Serikat dan berprofesi sebagai guru bahasa Spanyol di negara asalnya. Dia bergabung dengan pasukan anti-fasis untuk menjatuhkan rezim Franco. Hemingway menggambarkannya sebagai sosok tentara cerdas dan bersimpati pada komunisme dengan sebundel mimpi sederhana kalau perang usai.
Robert Jordan kemudian mendapat tugas dari komandannya untuk meledakkan sebuah jembatan. Misi ini mempertemukan dia dengan Pilar, Pablo, dan para gerilyawan di hutan. Selain itu, dia juga berjumpa dengan Maria dan kelak akan menjadi kekasih hatinya. Jordan dan para gerilyawan sukses menghancurkan jembatan. Namun, Jordan harus membayar mahal untuk kesuksesan misi tersebut. Dia tertangkap sehingga harus berpisah dari kawan-kawannya dan Maria.
Jernih, namun Membosankan
Sebagai mantan wartawan perang, Hemingway memang sukses menggambarkan situasi perang dengan detail. Dia menulis novel seperti seorang jurnalis memaparkan hasil liputannya dalam surat kabar. Dia menggambarkan lokasi persembunyian para gerilyawan dengan perinci dan lengkap dengan kebiasaan-kebiasaan mereka. Dia menguraikan setiap percakapan para tokoh dengan mendetail. Bahkan, taktik dan strategi pengeboman jembatan pun dilukiskannya dengan cermat—sekaligus rencana cadangannya. Membaca tulisan Hemingway dalam novel ini rasanya seperti membaca jurnalisme sastra, yaitu laporan berita yang dituliskan dalam bentuk narasi.
Salah satu hal yang membuat Hemingway terkenal adalah teknik menulisnya. Dia menulis dengan kalimat-kalimat pendek sehingga sulit bagi kita untuk menemukan jenis kalimat bertingkat. Dia menerapkan teknik itu dalam novel ini sehingga pembaca mudah memahami maksudnya. Semakin pendek sebuah kalimat, kian kecil kemungkinan pembaca salah memahami maksud si penulis. Artinya, karena Hemingway menulis dengan efektif, karyanya menjadi jernih dan mudah dibaca.
Karakteristik novel ini memang detail dan jernih. Namun, justru kedua keunggulannya ini menjadi penyebab membaca novel ini terasa membosankan. Alur cerita menjadi datar, padahal latar belakangnya adalah perang. Refleksi-refleksi eksistensial, yang menjadi ciri khas novel-novel besar, menjadi minim. Hemingway memang menggambarkan pergolakan batin para tokoh. Hanya saja, kalimat-kalimat pendeknya membuat pemilihan diksinya menjadi miskin sehingga nyaris tidak menyentuh rasa. Selama proses membaca, jarang sekali rasanya saya berhenti untuk mengambil waktu merenung. Bandingkan misalnya dengan novel Musashi karangan Eiji Yoshikawa. Dengan tebal 1600 halaman, Yoshikawa berhasil mencampuradukkan emosi pembaca dengan refleksi filosofis, ketegangan, dan humor. Sebaliknya, Hemingway gagal menghadirkan dinamika seperti itu dalam novelnya. Pendeknya, karena dua keunggulannya itu, novel ini terasa bertele-tele.
Perang kadang Terasa Feminin
Namun, walaupun begitu, Hemingway menawarkan sebuah pesan moral lewat novelnya: perang memang mengubah orang. Pesan ini tergambar kuat justru dari tokoh bernama Pablo, suami dari perempuan bernama Pilar. Ketika perang baru berkecamuk, Pablo adalah sosok pria hebat. Karakter pemimpin melekat dalam dirinya. Perang kemudian menyeret dia, istrinya, dan pasukannya untuk bermukim di hutan. Trauma dan kesepiannya mengubahnya menjadi pemabuk. Istrinya bahkan sudah memandang sebelah mata dengan menyebutnya sebagai pengecut. Dia bahkan berniat untuk menyabotase misi meledakkan jembatan. Kemudian, dia mengurungkannya karena takut kesepian. Dia takut teman-temannya akan meninggalkannya karena pengkhianatannya. Pablo menunjukkan perang membuat orang menjadi berbeda.
Ya, perang memang mengubah orang, tetapi cinta juga. Jordan pergi meninggalkan markas hanya dengan satu misi: meledakkan jembatan. Namun, misi itu mempertemukan dia dengan Maria. Mereka menyatakan cinta setia dan mengumbar mimpi tentang keluarga sederhana setelah perang usai. Jordan tidak pernah merencanakan itu sebelumnya. Kehadiran Maria mengubah orientasi dan rencana-rencananya. Hemingway menunjukkan lewat novelnya sisi feminin dari perang. Perang memang selalu identik tentang membunuh atau dibunuh. Kematian seolah-olah menjadi suara tunggal dari perang. Namun, siapa menyangka kalau perang juga bisa melahirkan cinta? Cinta yang kuat seperti maut sehingga mampu menggeser rencana hidup seorang tentara. Intinya, perang tidak selalu maskulin, bukan?
Kesimpulan
Novel Kepada Siapa Genta Berdentangan karya Ernest Hemingway bertutur tentang kisah manusia dalam konteks perang sipil di Spanyol. Gaya menulisnya memang jernih dan detail mirip dengan jurnalisme sastra. Hemingway melukiskan perihal dampak perang dan pengaruhnya mengubah karakter dan cita-cita seseorang. Meskipun menawarkan adegan demi adegan dengan detail, karya Hemingway ini tampak membosankan karena alur cerita yang datar dan minim refleksi. Kalimat-kalimat pendek Hemingway membuat tulisannya mudah dipahami, tetapi terasa kurang menyentuh emosi. Hemingway menawarkan dinamika yang statis sehingga ceritanya cenderung bertele-tele. Namun, pesan moral tentang perubahan tokoh akibat perang dan cinta di tengah-tengah kebrutalan konflik tetap merupakan nilai positif dari novel ini.