peran harapan dalam politik Indonesia

Politik dan Harapan

Oleh: Rinto Pangaribuan

“Pada hakikatnya, manusia ditentukan oleh masa depan,” Ernst Bloch menulis demikian dalam mahakaryanya Principle of Hope (1996). Masa depan mengekspresikan diri dalam bentuk utopia atau harapan. Eksistensi kita sekarang berangkat dari harapan di masa lalu. Entah harapan itu tercapai atau tidak, satu hal yang pasti adalah kita berbenah, berubah. dan bergerak karena keberanian untuk berharap akan sesuatu.

Namun, apa jadinya jika kita takut untuk berharap?

Mulanya, pertanyaan di atas berangkat dari sebuah percakapan santai di WhatsApp Group tentang situasi Indonesia terkini. Percakapan itu menyepakati satu hal, yakni Indonesia belum lepas dari krisis. Dunia pendidikan, ekonomi, dan politik terlihat ringkih menghadapi tantangan global yang kian tak menentu.

Setelah tiba pada diagnosis bahwa Indonesia masih sakit, pertanyaannya kemudian adalah apa resep untuk mengobatinya? Mayoritas mengatakan kita sudah kehabisan alternatif. Ide tentang kesetaraan, perbaikan demokrasi, pertumbuhan ekonomi, dan usaha menyehatkan pendidikan tinggal wacana belaka bagi mereka. Mereka mengatakan gagasan untuk mengubah dunia hanyalah sebuah utopia. Mereka seolah mengatakan kita telah kehilangan harapan untuk memperbaiki Indonesia.

Kita dan Gejala Kehilangan Harapan

Walhasil, konsekuensi logis dari kehilangan harapan adalah timbulnya sikap apatis terhadap kondisi bangsa. Suatu kali, seorang teman berkomentar sinis ketika melihat saya membaca koran. Dengan setengah mengejek dia mengatakan, “Lu masih suka baca politik?” Kemudian, sambil bercanda, dia melanjutkan, “Politik itu guyonan, ditertawakan aja, enggak usah diseriusi.”

Fenomena apatisnya masyarakat terhadap politik sejatinya bukanlah hal baru. Pada Pemilu 2019, misalnya, hanya 77,5% masyarakat yang menggunakan hak suaranya. Angka ini disebutkan sebagai yang terendah sejak Pemilu 1999. Selain itu, survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada Agustus 2022 memperkuat anggapan perihal rendahnya minat masyarakat terhadap politik. Survei menunjukkan lebih dari 80% para pemuda enggan mencalonkan diri sebagai anggota DPR atau kepala daerah.

Fenomena di atas menunjukkan politik bukanlah menu utama dalam percakapan kita. Politik masih sebatas konsumsi elite. Kalaupun politik menjadi perbincangan, sifatnya masih tergantung pada momentum. Misalnya, pemerintah mengambil kebijakan kontroversial dengan mengesahkan UU Ciptaker atau persoalan RKUHP beberapa bulan lalu. Dengan kata lain, politik belum mengakar dalam wacana publik di Indonesia.

Sikap apatis dan kehilangan harapan terhadap persoalan politik tentu saja datang dari konteks tertentu. Korupsi, kasus intoleransi agama, dan berbagi kebijakan pemerintah pro pemodal masih menjadi persoalan pada wacana politik kita. Berbagai usaha, seperti kritik dan aksi demonstrasi, sudah dilakukan, tetapi perubahan seperti fatamorgana. Hingga akhirnya, kita meyakini bahwa inilah kondisi terberi politik di Indonesia. Akibatnya, imajinasi politik kita mentok pada status quo: perubahan mustahil terjadi. Dengan kata lain, harapan kita terbunuh karena masalah-masalah politik terasa permanen. Hasil akhirnya adalah frustrasi dan pesimis.

Selain persoalan politik yang tak kunjung selesai, kaum intelektual progresif juga layak dipersalahkan atas matinya harapan politik kita. Alasannya karena mereka gagal menyediakan pendidikan bagi masyarakat untuk membangkitkan kesadaran. Jika membaca Prison Notebooks tulisan Antonio Gramsci, kita akan melihat betapa krusialnya kesadaran bagi perubahan. Bersandar pada keyakinan itulah, Gramsci mengedepankan edukasi dalam program kerja revolusionernya. Mengutip lirik Paman Doblang karya WS. Rendra, “Kesadaran adalah matahari.” Artinya, kesadaran merupakan sumber energi. Dalam mengusahakan kesadaran inilah kaum intelektual kandas total. Padahal, menurut Gramsci dan Eduard Said, tugas membangun kesadaran terletak di pundak para intelektual.

Ketika kesadaran menipis, sikap apatis menebal, dan harapan hilang, artikulasi tunggal kita dalam wacana politik adalah kepasifan. Kita, tanpa sadar, telah memilih untuk keluar dari gelanggang politik. Akibatnya adalah kita merelakan diri menjadi komoditas politik yang hanya berguna lima tahun sekali. Kita pun hanya pasrah menghadapi kebijakan-kebijakan politik pemerintah tanpa sikap kritis.

Ujung dari sikap pasrah adalah pragmatisme. Kita beranggapan selama tidak mengganggu kepentingan pribadi, politik bukanlah persoalan. Dengan kata lain, kita membiarkan diri untuk buta politik. Padahal, Bertolt Brecht mengatakan, “Buta terburuk adalah buta politik! Orang yang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung pada keputusan politik.” Artinya, karena politik secara langsung bersinggungan dengan kepentingan dan kebutuhan sehari-hari kita, sikap pragmatisme politik adalah absurditas belaka.

Harapan Tulus dan Dedikasi

Seperti yang sudah dipaparkan di atas, absurditas muncul karena kita telah kehilangan harapan. Alkitab menyamakan orang yang kehilangan harapan dengan kematian. Kitab Pengkhotbah menulis, “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan,” (Pkh 9:4a). Mengapa kitab Pengkhotbah mengaitkan hidup dan harapan? Ayat selanjutnya secara implisit menyiratkan harapan menandakan adanya tujuan. Jadi, Alkitab mengindikasikan bahwa kondisi biologis bukanlah faktor penentu hidup atau matinya seseorang, melainkan orientasi kehidupannya. Oleh karena itulah, ketika harapan telah hilang, kita hanyalah zombi: tampak hidup, tetapi mati .

Salah satu ciri makhluk hidup adalah bergerak. Para ahli biologi mengategorikan pohon sebagai makhluk hidup karena ia bergerak. Kita mengistilahkan gerakannya sebagai pertumbuhan. Namun, manusia berbeda. Sama seperti pohon, kita juga bertumbuh. Hanya saja, selain dari dimensi biologis, gerakan pertumbuhan kita juga mencakup dimensi waktu, yaitu bergerak ke masa depan. Kita berproses untuk “menjadi” (becoming), bukan sekadar “mengada” (being).

Pertanyaannya kemudian adalah kita mau menjadi apa? Bloch memulai dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial dalam Pendahuluan bukunya Principle of Hope. Dia menulis, “Who are we? Where do we come from? Where are we going? What are we waiting for? What awaits us?” Umur dari pertanyaan ini mungkin sudah setua peradaban manusia. Bahkan, kemajuan teknologi dan perubahan budaya kita ditentukan oleh jawaban atas pertanyaan ini. Lalu, apa jawaban Bloch atas pertanyaan-pertanyaan itu? Kulminasi harapan dalam impian! Bloch menuliskan, “The dream plays out what is wished for as it could have been, what is right as it should have been.” Kesimpulannya, kita berproses untuk “menjadi” menuju harapan. Oleh sebab itu, harapanlah yang memanusiakan kita.

Ketika harapan telah hilang dalam memandang politik, artinya kita sedang membeku dan berhenti bergerak. Dalam kejumudan ini, kita berubah dari manusia menjadi sekadar benda. Akibatnya adalah opsi politik kita hanyalah status quo yang hanya menawarkan kondisi statis. Gerak kehidupan berhenti, bahkan membuka peluang politik sebagai alat eksploitasi dan tirani.

Lalu, apa solusinya? Memang, kenyataan merupakan pembunuh harapan paling efisien. Ketika kenyataan tak kunjung berubah, kita mudah kehilangan orientasi. Namun, perkataan Bloch bahwa “harapan yang tulus adalah dermawan paling berdedikasi” perlu kita pertimbangkan Ketika paras realitas menunjukkan gejala busuk permanen, itulah saatnya dedikasi kita diuji. Politik sama seperti permainan catur. Kemenangan akan tercapai jika kita menerapkan strategi bertahan dan menyerang secara seimbang. Dedikasi dibutuhkan untuk menyeimbangkan keduanya. Pastinya, seperti yang dikatakan oleh Brie Bella, seorang pesohor AS, “People’s passion and dedication can conquer anything.” Dengan kata lain, menyerah pada kenyataan bukanlah pilihan bagi orang-orang dengan harapan yang tulus.  

Kesimpulan

Sejauh ini, kita telah melihat bahwa harapan adalah sumber kekuatan revolusioner. Tanpa harapan, imajinasi kita tentang dunia yang lebih baik akan menghilang. Ketika harapan sirna, kita akan menganggap seruan perubahan hanyalah ilusi dan isapan jempol belaka. Hingga akhirnya, kita merelakan diri untuk dilahap kenyataan. Sebaliknya, harapan memberi kita daya. Ia akan menjadi suluh agar mengeluarkan kita dari lorong gelap menuju terang. Harapan menginjeksi optimisme karena memberi keyakinan bahwa realitas hari ini bukanlah absolut permanen.

Dengan suntikan optimisme dari harapanlah inilah, kita menghadapi realitas politik di Indonesia hari-hari ini. Memang, realitas menunjukkan tanda-tanda perubahan masih belum terlihat. Namun, bukan berarti imajinasi kita pun ikut terbunuh. Justru sebaliknya, ketika dunia terasa tawar dan gelap, harapan harus kian membara. Karena tanpa harapan, kita akan berhenti untuk membangun peradaban.

Scroll to top